Kembaran Bumi di Rasi Layar


Ilmuwan menemukan planet terbaik yang bisa menopang kehidupan. Mengorbit bintang jingga yang ramah. Tidak terikat pasang-surut gravitasi dan memiliki iklim yang stabil.

Sebuah planet baru ditemukan mengorbit bintang berjarak sekitar 36 tahun cahaya dari bumi. Ini merupakan salah satu planet paling mirip dengan bumi jika memiliki cukup awan. Planet berjuluk HD 85512 b itu mengorbit bintang cebol oranye (K5V) di konstelasi Vela (Layar Kapal). Bintang kerdil oranye yang lebih tua daripada matahari itu diyakini para ahli merupakan pelabuhan terbaik untuk planet berkehidupan.

Tim astronom pemburu planet menemukan planet itu dengan instrumen spektograf High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher (HARPS) pada teleskop 3,6 meter di Observatorium La Silla, Atacama, Cile. Tim peneliti terdiri dari Lisa Kaltenegger, Stephane Udry, dan Francesco Pepe. Kertas kerja mereka dimuat di jurnal Astronomy & Astrophysics, 20 Agustus 2011.

Dalam penelitian itu, mereka menggunakan teknik kecepatan radial, di mana ukuran dan massa planet ditentukan berdasarkan gangguan kecil gravitasi yang menginduksi orbit bintang inangnya. Data HARPS menunjukkan, planet itu memiliki massa 3,6 kali bumi. Dunia baru itu mengorbit bintang induknya pada jarak yang tepat untuk memungkinkan air hadir dalam bentuk cair di permukaan planet.

“Jaraknya persis pada batas di mana (memungkinkan) memiliki air cair,” kata pemimpin studi Lisa Kaltenegger dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics. Posisi planet itu sedikit lebih dekat ke bintang induknya jika dibandingkan dengan posisi Merkurius dalam tata surya kita. Merkurius berjarak 57,9 juta kilometer atau 0,39 satuan astronomi (SA –jarak bumi-matahari: 150 juta kilometer) dari matahari.

HD 85512 b mengorbit bintang inangnya dari jarak 0,29 SA atau 43,5 juta kilometer. Sekali mengorbit, dia membutuhkan waktu 58,43 hari. Meskipun berjarak cukup “dekat” dengan bintang inang, dia tidak terpanggang seperti Merkurius. Sebab bintang inangnya lebih redup jika dibandingkan dengan matahari kita. Planet itu kemungkinan menerima energi sedikit lebih dari bintangnya dibandingkan dengan energi yang diterima bumi dari matahari.

Massa bintang HD 85512 adalah 0,69 matahari, dengan suhu permukaan 4.715 K. Bandingkan dengan matahari kita yang 6.000 K. Berdasarkan hitungan Katenegger dan rekannya dalam makalah yang berjudul “A Habitable Planet around HD 85512?”, tutupan awan minimal 50% akan memayungi planet itu dari terik bintangnya.

Awan itu cukup untuk mencerminkan kembali energi bintang tersebut ke angkasa guna mencegahnya terlalu panas. Rata-rata bumi memiliki 60% tutupan awan. Sehingga langit berawan sebagian pada HD 85512 b adalah hal yang lumrah. “Tidak keluar dari konteks,” katanya.

Tentu saja awan uap air bergantung pada adanya atmosfer, mirip dengan bumi. Misalnya kandungan air (H2O), karbon dioksida (CO2), dan nitrogen (N2). Sayangnya, karena jaraknya sangat jauh, kandungan senyawa-senyawa itu tidak dapat dideteksi dengan instrumen pada saat ini. Namun model pembentukan planet memprediksi bahwa planet dengan massa lebih dari 10 kali bumi harus memiliki atmosfer yang didominasi hidrogen dan helium.

HD 85512 termasuk planet yang kurang besar, sehingga cenderung memiliki atmosfer seperti bumi. Sebagian besar terdiri dari nitrogen dan oksigen. Sebagai planet cadas sebagaimana halnya bumi, dari segi posisi HD 85512 b sudah memenuhi syarat untuk menopang kehidupan. Suhu rata-rata permukaan HD 85512 b sekitar 25 derajat celsius.

Kondisi lingkungan seperti itu membuat HD 85512 b cukup nyaman untuk makhluk hidup. Kelayakannya setara dengan Gliese 581 d, yang selama ini dianggap sebagai kandidat terbaik untuk planet layak huni. Jika keduanya dibandingkan, HD 85512 b memiliki beberapa keunggulan.

Dari segi bintang, HD 85512 b mengorbit bintang kerdil jingga. Bintang terbaik untuk menopang kehidupan. Sedangkan Gliese 581 d mengorbit bintang kerdil merah dari jarak 30 juta kilometer. Gliese 581 d yang berada pada zona layak huni itu terikat pasang-surut gravitasi sehingga permukaan yang sama selalu menghadap bintang. Karena itu, terjadi siang dan malam yang abadi.

Sedangkan HD 85512 b yang mengorbit dari jarak 43,5 juta kilometer tidak terikat pasang-surut gravitasi. Sehingga terjadi periode siang dan malam seperti di bumi.

Manfred Cuntz, direktur program astronomi di University of Texas, Arlington, mencatat bahwa lebih banyak informasi yang dibutuhkan sebelum orang dapat berspekulasi apakah alien berkeliaran di planet HD 85512 b. “Ini bukan kesalahan mereka. Tidak ada informasi tambahan (tentang atmosfer planet) tersedia sekarang,” kata Cuntz.

Toh, Cuntz juga meyakini bahwa HD 85512 b merupakan kandidat terkuat planet yang bisa dihuni. Selain ukuran dan lokasinya, H D85512 b juga memiliki dua faktor lainnya yang mendukung untuk berpotensi menopang kehidupan. Yaitu orbit planet hampir melingkar, yang akan memberikan iklim yang stabil.

Kemudian bintang induknya, HD 85512, lebih tua (karenanya kurang aktif) dibandingkan dengan matahari. Sehingga menurunkan kemungkinan timbulnya badai elektromagnetik yang merusak atmosfer planet itu.

Selain itu, sistem tata bintangnya lebih tua dari tata surya yang berusia 4,6 milyar tahun. Sistem tata bintang HD 85512 terbangun sejak 5,6 milyar tahun lampau. “Memberikan kesempatan untuk kehidupan berkembang,” katanya.

Rohmat Haryadi


Bintang Kerdil Oranye yang Ramah
Di antara sederat topik terpanas pertemuan Majelis Umum Persatuan Astronom Internasional (IAU) XXVII di Rio de Janeiro, Brasil, 3-14 Agustus 2009, adalah studi tentang kondisi astrofisika untuk pengembangan dan kelangsungan kehidupan. Bintang-bintang terbaik untuk menyimpan planet berkehidupan mungkin lebih kecil, lebih dingin, dan lebih merah daripada matahari.

“Untuk jangka panjang, matahari mungkin bukan bintang terbaik,” kata Edward F. Guinan, guru besar astronomi Universitas Villanova di Pennsylvania, Amerika Serikat. Guinan dan dua rekannya membandingkan emisi sinar ultraviolet dan sinar-X dari berbagai jenis bintang serta menghitung kerusakan pada kehidupan berbasis karbon.

Matahari menakjubkan dan menakutkan. Bola super sekitar 300.000 kali berat bumi itu memancarkan energi dalam jumlah besar dan melemparkan gumpalan besar plasma panas jutaan kilometer ke angkasa luar.

Akan berakibat fatal jika berdekatan dengan matahari, tetapi bumi mengorbit pada jarak yang aman. Sehingga radiasi ganas itu, ketika sampai di bumi, berubah menjadi belaian lembut, dan matahari dapat menyediakan pasokan energi yang stabil, yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan.

Tim Guinan menemukan, bintang-bintang yang sedikit lebih besar daripada matahari adalah penghasil radiasi ultraviolet yang merusak. “Ini jenis radiasi yang memiliki potensi terbesar untuk menghasilkan kerusakan biologis,” kata Manfred Cuntz dari Universitas Texas di Arlington.

Sumber ultraviolet tertinggi berikutnya adalah bintang seperti matahari. Diikuti dua kelas bintang yang lebih kecil, kerdil oranye dan kerdil merah. Bintang kerdil merah baru-baru ini menerima banyak perhatian sebagai kandidat terbaik untuk menemukan planet berukuran bumi. Tetapi bintang kerdil M memiliki masalah lain, yaitu tingginya medan magnetik permukaan sehingga membuang energi ke lapisan luar, memanaskan gas, dan menghasilkan flare.

Flare menyebabkan lonjakan radiasi ultraviolet dan sinar-X, yang dari waktu ke waktu dapat melucuti atmosfer planet. Berdasarkan pertimbangan itu, induk yang tepat untuk planet berkehidupan mungkin bintang tipe K atau kerdil oranye. Bintang-bintang ini mengeluarkan lebih sediki radiasi ultraviolet dan memiliki zona layak huni yang cukup jauh, sehingga planet-planet tidak terkunci.

Bintang tipe K hidup lebih lama daripada matahari, sehingga memberikan peluang evolusi kehidupan lebih panjang untuk berkembang. Bintang tipe K juga lebih banyak daripada jenis matahari (tipe G), yaitu sekitar 15% dari bintang-bintang di galaksi. Sedangkan tipe G hanya 3,5%. ”Memeriksa tanda-tanda kehidupan mungkin hanya bermain dengan angka-angka,” ujar Guinan.

Rohmat Haryadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: