Kembaran Bumi di Langit Utara


Ilmuwan NASA melansir temuan planet paling mirip Bumi di zona habitasi. Planet itu mengorbit bintang kembaran matahari. Butuh konfirmasi lebih lanjut untuk mengetahui massa dan permukaan planet itu.

Teleskop ruang angkasa Kepler menemukan planet baru yang mengorbit bintang seperti matahari. Planet itu mengorbit tepat di zona layak huni, yang mampu menyediakan air dalam bentuk cair. Suhu permukaannya 22 derajat celsius, seperti suhu pada musim semi. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengumumkan temuan itu Senin, 12 Desember 2011.

Planet berjuluk Kepler-22b itu mengorbit bintang kerdil kuning jenis G seperti matahari (G2). Hanya saja, bintang di konstelasi Angsa itu sedikit lebih dingin dibandingkan dengan matahari. Kedudukan Kepler-22b tepat di zona layak huni, seperti kedudukan bumi terhadap matahari.

Temuan itu menjadikan Kepler-22b sebagai kandidat terbaik planet yang menyediakan bantalan kehidupan di luar tata surya. “Jika memiliki permukaan (seperti bumi), seharusnya memiliki temperatur yang bagus,” kata ilmuwan yang memimpin misi Kepler, William Borucki.

“Itu tepat di tengah zona layak huni,” kata Natalie Batahla, seorang ilmuwan misi Kepler, merujuk pada zona sempit di sekitar bintang tempat air tersedia dalam bentuk cair. “Hal menarik lainnya, planet itu mengorbit sebuah bintang yang sangat mirip dengan matahari kita,” katanya.

Teleskop ruang angkasa Kepler mengambil nama astronom Jerman abad ke-17, Johannes Kepler. Peluncurannya pada 7 Maret 2009 memang bertujuan menemukan planet mirip bumi yang mengorbit yang bintang lain. Misi seumur hidup itu hingga saat ini telah menemukan 2.326 planet –207 seukuran bumi (10 berada di zona layak huni), 680 super-bumi (empat kali bumi), 1.181 sebesar Neptunus, 203 sebesar Jupiter, dan 55 lebih besar dari Jupiter.

Nah, di antara sekian ribu planet itu, Kepler-22b mencuri perhatian astronom. Planet yang mengorbit bintang berjarak 600 tahun cahaya  (6 trilyun kilometer) dari bumi itu memiliki orbit mirip bumi. Jika setahun bumi berumur 365 hari, maka Kepler-22b mengorbit bintang inangnya pada orbit yang lebih pendek, yaitu 290 hari.

Kepler-22b berukuran 2,4 kali bumi. Namun, hingga kini, ilmuwan belum mengetahui komposisi permukaannya. Apakah planet gas, dunia yang diliputi lautan, atau planet berbatu seperti bumi. “Ini tonggak baru dalam perjalanan menemukan kembaran bumi,” kata Borucki.

Borucki menjelaskan, teleskop ruang angkasa Kepler harus menunggu Kepler-22b untuk lulus tiga kali transit atau melintasnya planet di depan bintang inang. Terjadinya transit ditandai dengan meredup atau berkedipnya bintang. Sebuah planet dinyatakan eksis mengorbit sebuah bintang setelah pengamat mengonfirmasi tiga kali transit. Transit pertama Kepler-22b dikonfirmasi hanya tiga hari setelah teleskop ruang angkasa Kepler beroperasi.

Karena Kepler-22b mengorbit bintangnya selama 290 hari, maka dibutuhkan 2 kali 290 hari untuk mengonfirmasi dua transit berikutnya. Transit ketiga terjadi selama musim liburan 2010, dan Kepler-22b pun resmi menjadi planet yang mengorbit bintang mirip matahari.

Yang membedakan Kepler-22b dari planet-planet yang menghuni zona layak huni sebelumnya, dia mengorbit bintang serupa matahari. Planet-planet penghuni zona layak huni sebelumnya mengorbit sebuah bintang kerdil merah. Zona layak huni bintang kerdil kuning sangat jauh dari bintangnya, sehingga planet itu berotasi secara normal. Sehingga periode siang-malam berjalan seperti di bumi.

Sedangkan planet di zona layak huni yang mengorbit bintang merah berjarak cukup dekat. Akibatnya, terjadi sinkronisasi antara rotasi dan revolusi mengelilingi bintang. Karena itu, salah satu permukaan planet menghadap terus-menerus (siang abadi) ke arah bintang. Sebaliknya, sisi lain membelakangi bintang inang (malam abadi). Kejadiannya seperti bulan mengorbit bumi.

Dua planet yang selama ini dikenal mengorbit bintang merah di zona layak huni adalah Gliese 581d dan HD-85512b. Keduanya mengorbit di tepi zona layak huni bintang inang dan membuat mereka lebih mirip Venus dan Mars daripada bumi. “Yang membuat penemuan ini menarik, planet ini (Kepler-22b) tepat di tengah zona layak huni,” kata Natalie Batalha, wakil pemimpin tim peneliti dari San Jose State University di California.

“Ini juga mengorbit sebuah bintang yang hampir sama dengan matahari kita, sedangkan dua lainnya mengorbit bintang-bintang yang secara signifikan lebih dingin,” katanya. Misi Kepler menemukan dunia baru setelah memonitor 150.000 bintang yang mengalami peredupan, yang mengindikasikan terjadinya transit.

Kepler-22b merupakan salah satu dari 54 planet yang menghuni zona habitasi. Temuan itu diumumkan tim Kepler pada Februari silam. Namun persyaratan tiga kali transit menunda untuk memastikan bahwa penyebab peredupan itu sebuah planet. “Dewi fortuna tersenyum kepada kita dengan mendeteksi planet ini,” kata William Borucki.

Tim Kepler berharap, massa Kepler-22b dapat dihitung dengan bantuan alat baru berbasis darat di Kepulauan Canary, Spanyol, yang akan memulai pengamatan musim semi mendatang. Teleskop yang bertugas memelototi langit belahan utara itu dilengkapi peranti spektograf High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher (HARPS). HARPS menggunakan teknik kecepatan radial, di mana ukuran dan massa planet ditentukan berdasarkan gangguan kecil gravitasi yang menginduksi orbit bintang inangnya.

Dengan informasi itu, para ilmuwan dapat menghitung massa dan kepadatan Kepler-22b. Sehingga  bisa menentukan apakah dia sebuah planet berbatu atau dunia air. “Kami sangat berharap, HARPS bisa membantu dalam menentukan massa planet ini,” ujar Batalha. Pengamatan planet itu menggunakan teleskop yang berbasis di belahan utara karena rasi Angsa tempat bintang inang planet itu merupakan rasi bintang belahan langit utara.

“Kami semakin dekat dengan apa yang benar-benar mirip bumi,” Batalha menambahkan. Kepler-22b terletak 15% lebih dekat ke bintangnya dibandingkan dengan bumi ke matahari. Sekitar 127,5 juta kilometer jarak Kepler-22b ke bintangnya. Namun bintang induk planet itu 25% lebih redup sehingga menjaga planetnya pada suhu yang nyaman, yang akan mendukung keberadaan air cair.

Sebagai calon planet mirip bumi yang dikonfirmasi, Kepler-22b menarik ilmuwan Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI). “Ini kesempatan luar biasa untuk pengamatan SETI,” kata Jill Tarter, Direktur Pusat Penelitian SETI di Institut SETI.

“Untuk pertama kalinya, kami bisa mengarahkan teleskop ke bintang-bintang dan tahu bahwa mereka benar-benar bintang induk bagi sistem planetnya. Termasuk setidaknya satu yang mulai mendekati analog bumi di zona habitasi di sekitar bintang induknya,” ujar Tarter.

Rohmat Haryadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: