Planet Tanpa Inang


Secara umum planet terikat pada sebuah bintang. Namun, para astronom menemukan 10 planet yang mengambang bebas di Bima Sakti. Planet-planet itu ditemukan kelompok peneliti internasional. Tidak mengorbit bintang manapun

Para astronom telah menemukan planet yang berkeliaran sendirian melalui ruang antar bintang. Penemuan objek, yang tidak mengorbit bintang manapun, akan membantu para ilmuwan lebih memahami bagaimana sistem planet terbentuk dan berevolusi.

Sepuluh planet itu bebas -mengambang ribuan tahun cahaya dari bumi, searah tonjolan pusat Bima Sakti, dengan latar konstelasi Sagitarius. Massa dan komposisi mereka dianggap seperti Jupiter dan Saturnus. Unsur utama terdiri dari hidrogen dan helium, dengan sejumlah elemen yang lebih berat.

“Kami berharap bahwa mereka terbentuk di sekitar bintang. Kemudian, selama tahap pembentukan planet, mereka dikeluarkan, terutama karena interaksi dengan planet lain,” kata Daniel Bennett, astronom di Universitas Notre Dame. Hasil temuan tim Bennet dilansir Jurnal Nature pertengahan Mei lalu. .

Lebih dari 500 planet luar surya telah terdeteksi hanya dalam waktu satu dekade setelah para astronom berburu. Sebagian besar di antaranya terikat gravitasi bintang, seperti orbit planet-planet di Sistem  Tata Surya. Planet yang beredar bebas tanpa bintang telah dilaporkan sebelumnya, tetapi hanya saja di daerah terdapat bintang. Bukan ruang kosong.

Penemuan terbaru menunjukkan bahwa planet mengambang bebas dalam jumlah besar di ruang kosong. Minimal tidak ada bintang pada jarak 10 kali Bumi-Matahari. Bennett memperkirakan bahwa ada sekitar 1,8 kali lebih banyak planet tanpa bintang berukuran raksasa Jupiter daripada jumlah bintang-bintang di Bima Sakti. “Itu sedikit lebih dari yang orang harapkan,” katanya.

“Survei kami adalah seperti sensus penduduk. Kami mengambil sampel di sebagian galaksi, dan berdasarkan data tersebut, dapat memperkirakan jumlah keseluruhan di galaksi,” kata Bennett. “Survei ini tidak sensitif terhadap planet yang kurang masif dari Jupiter dan Saturnus. Secara teori planet  bermassa rendah seperti Bumi harus lebih mudah terlempar dari bintang. Sehingga mereka lebih banyak dan lebih umum daripada planet segede Jupiters yang bebas mengambang.”

Sendirian di ruang dingin dan tanpa sumber energi eksternal, sangat tidak mungkin bahwa planet gas itu bisa menjadi pelabuhan bagi kehidupan. Tetapi planet berukuran Bumi yang bebas mengambang mungkin berbeda. “Ada sebuah kertas kerja yang menunjukkan bahwa beberapa planet berukuran Bumi yang bebas mengambang bisa saja memiliki suhu permukaan yang bisa dihuni,” kata Bennett.

“Alasannya, karena mereka tidak dekat dengan bintang, mereka tidak memiliki mekanisme untuk kehilangan atom hidrogen atom dari atmosfer mereka. Jika mereka memiliki kerapatan yang cukup tinggi, hal itu bisa menjadi gas rumah kaca yang sangat efektif,” katanya. Planet-planet seputar bintang kehilangan atmosfir karena hempasan angin yang disemburkan bintang induk.

Para ilmuwan sebelumnya menyarankan bahwa planet seukuran Bumi yang bebas mengambang bisa memiliki suhu permukaan yang layak dihuni. Panas itu dihasilkan peluruhan unsur radioaktif di interior mereka. “Bumi juga mengalami itu, tetapi dayanya hanya sekitar 10.000 kali lebih kecil daripada pemanasan dari Matahari. Jadi, perlu gas rumah kaca yang sangat efektif untuk menjaga suhu yang dihasilkan peluruhan radioaktif,” kata Bennett.

Tim Bennett menganalisis data dari pengamatan petak sekitar 60 derajat pada tonjolan pusat Bima Sakti. Hasilnya di amati dengan teknik  pengamatan microlensing, menggunakan teleskop dengan lensa 1,8 meter di New Zealand. Microlensing adalah teknik yang mengambil keuntungan dari fakta bahwa cahaya akan membelok ketika melewati benda masif seperti bintang atau planet.

Menurut teori relativitas umum Albert Einstein, gravitasi dari massa planet membelokan ruang di sekitarnya, membuat daerah itu bertindak seperti kaca pembesar raksasa. Jika “kaca pembesar” lewat itu di depan sebuah bintang yang sudah diawasi dengan teleskop di Bumi, bintang tampaknya akan mencerah dalam waktu singkat. Dengan teknik itu, memungkinkan para ilmuwan memantau kecerahan 50 juta bintang di Bima Sakti setiap jam selama dua tahun.

Tim Bennet mengamati 10 peristiwa microlensing tersebut. Dari takaran menguatnya terang cahaya bintang-bintang memungkinkan mereka menghitung massa planet-planet yang lewat. Dia mengatakan, mungkin saja mereka itu planet-planet terakhir yang mengorbit bintang dari jarak yang sangat jauh. Tetapi,  orbit seperti itu sangat jarang.

Rohmat Haryadi

4 Komentar

  1. Harun said,

    14 Agustus 2011 pada 10:40

    Halo Cak Rohmat,

    Gak sengaja nemu blogmu selagi cari inspirasi.
    Sehat-sehat ae kan?
    Salam gawe cacakmu Rohman.
    Mampir nang blog-ku lek sempat…

    Harun-MPUB

    • rohmat said,

      22 Agustus 2011 pada 10:40

      Sik di Griya Asri-kah?

  2. rohmat said,

    22 Agustus 2011 pada 10:40

    Siap Boss. Masih di Griya Asri. Depok?

    • Harun said,

      29 Agustus 2011 pada 10:40

      wah aku saiki nang daerah bbm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: