Klaim Kehidupan di Meteorit Menanti Bukti


Ilmuwan NASA menemukan fosil fragmen kehidupan mikroskopis pada meteorit langka. Mengundang polemik dari ilmuwan lain. Klaim yang luar biasa perlu bukti yang luar biasa.

Kita tidak sendirian di alam semesta. Bentuk-bentuk kehidupan asing mungkin memiliki lebih banyak kesamaan dengan kehidupan di bumi dari yang kita pikir sebelumnya. Itulah kesimpulan ilmuwan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), yang meneliti jejak fosil kehidupan di meteorit, seperti dilansir Journal of Cosmology, edisi Maret ini.

Adalah Dr. Richard B. Hoover, astrobiologis dari NASA’s Marshall Space Flight Center di Alabama, Amerika, yang melakukan penelitian ke daerah-daerah terpencil di Antartika, Siberia, dan Alaska lebih dari 10 tahun. Dia mengumpulkan dan mempelajari meteorit. Meteorit adalah batuan dari angkasa luar yang jatuh ke bumi.

Hoover melansir temuan terbaru fosil bakteri dalam kelas meteorit karbon CI1 chondrites. Meteorit ini jenis yang langka karena di bumi hanya ditemukan sembilan buah. Hoover sangat yakin, temuan itu menunjukkan bukti bahwa fosil bakteri hidup dalam meteorit tersebut. Sisa-sisa organisme hidup itu berasal dari tempat asal-usul meteorit, seperti komet, planet, asteroid, dan benda-benda langit lainnya.

“Saya menafsirkan, ini menunjukkan bahwa kehidupan didistribusikan lebih luas daripada hanya di planet bumi,” kata Hoover, sebagaimana dikutip FoxNews.com. Hoover menduga, temuannya akan mengundang kontroversi yang hebat. “Terus terang saja, banyak ilmuwan besar akan menyatakan bahwa ini adalah mustahil,” katanya.

Dalam penelitiannya, Hoover memastikan dulu bahwa meteorit itu jatuh di lingkungan yang steril. Antartika, Alaska, dan Siberia merupakan daerah padang es yang steril dari mikroorganisme. Sehingga dipastikan, jika ditemukan jejak kehidupan di meteorit itu, bukan karena terkontaminasi dari bumi. Dia menggunakan mikroskop elektron untuk mendeteksi kehadiran fosil mikroskopik itu.

Dia menemukan struktur seperti filamen yang biasanya terlihat pada mikroorganisme yang dikenal sebagai Cyanobacteria. Hoover menemukan struktur filamen dalam sampel meteorit yang diperkirakan seusia dengan awal tata surya, lebih dari 4 milyar tahun lalu. Filamen berbentuk benang-benang halus yang teranyam membentuk kerangka sel.

Jika struktur itu dikonfirmasi sebagai jejak biologis, maka akan menjadi bukti baru bahwa kehidupan dapat membuat jalan melalui angkasa luar. Juga menjadi bukti bahwa “benih kehidupan itu” mengontaminasi planet, membuka kemungkinan bahwa manusia berasal dari sana. Hoover menyatakan, bukti menunjukkan bahwa kehidupan mikroba bisa juga ada di komet atau dunia dingin, seperti Europa (satelit Jupiter) atau Enceladus (satelit Saturnus).

“Yang menarik, dalam banyak kasus mereka dikenali dan dapat dikaitkan sangat erat dengan spesies generik di bumi,” ujarnya. Tapi tidak semuanya sama dengan mikroorganisme bumi. “Ada beberapa yang sangat aneh. Saya telah menunjukkan kepada ahli lain yang juga kebingungan,” tuturnya.

Hoover mengatakan bahwa filamen, yang berukuran lebih dari 20 mikron, merupakan ukuran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik struktur yang terlihat pada Cyanobacteria. “Faktanya, mereka begitu besar dan kompleks, dan banyak dari mereka memiliki sel-sel khusus,” katanya. Salah satu struktur yang ditemukan di meteorit mirip dengan yang terlihat pada bakteri raksasa, yang dikenal sebagai Titanospirillum velox.

Menurut Hoover, bakteri itu bukan hasil kontaminasi ketika meteorit tersebut menghantam bumi. Hoover berpendapat, Cyanobacteria umumnya ditemukan di lingkungan perairan, tapi meteorit chondrites berantakan ketika terkena air cair. Ia juga menyatakan, tes kimia pada filamen tidak menemukan bukti nitrogen, yang seharusnya hadir jika Cyanobacteria duniawi menyusup ke meteorit.

Salah satu meteorit, misalnya, diketahui jatuh di Prancis pada 1864. “Ketidakmampuan untuk mendeteksi nitrogen dalam filamen menunjukkan bahwa mereka sangat tua, bahkan purba. Padahal, meteorit itu jatuh ke bumi pada 1864,” kata Hoover. Tetiadaan jejak nitrogen itu menunjukkan bahwa mereka berada di meteorit ketika jatuh.

Ilmuwan lain cukup hati-hati menanggapi temuan Hoover itu. Dr. David Morisson, pakar astrobiologis senior di NASA Astrobiology Institute di Ames Research Center, mengingatkan bahwa jenis-jenis klaim serupa telah dibuat sebelumnya dan menurut catatannya biasanya berakhir dengan kesalahan. “Ini klaim yang luar biasa, sehingga saya perlu bukti yang luar biasa,” ujar Morisson.

“Banyak ilmuwan telah meneliti ribuan meteorit secara rinci selama 50 tahun terakhir tanpa menemukan bukti hidup fosil,” katanya. Morrison menambahkan bahwa kondisi objek induk dari meteorit, yang agak kecil, sama sekali tidak seperti planet. Cyanobacteria eksis di dunia yang pengap dan kecil. “Terdengar seperti sebuah lelucon. Mungkin publikasi keluar terlalu cepat, lebih tepat kalau muncul pada 1 April (April Mop –Red.),” tutur Morrison.

Melihat hasil studi Hoover itu memantik kontroversi, jurnal Cosmology mengundang komunitas ilmiah untuk menganalisis dan menulis komentar kritis. Dr. Rudy Schild, ilmuwan dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, dan Chief Editor Journal of Cosmology mengundang secara khusus 100 ahli untuk mengkritisi kertas kerja Hoover itu. “Mengingat sifat kontroversial penemuan itu, kami juga telah mengeluarkan undangan umum untuk lebih 5.000 ilmuwan dari komunitas ilmiah guna meninjau kertas kerja Hoover dan menawarkan analisis kritis mereka,” tulis Schild.

Dr. Seth Shostak, astronom senior di SETI (Search for Extra-Terrestrial Intelligence) Institute, mengatakan bahwa terdapat banyak keraguan untuk mempercayai klaim itu. Jika benar, implikasinya akan jauh mencapai seluruh bidang ilmu pengetahuan dan astronomi. Selain itu, akan mengundang saran-saran dan kemungkinan-kemungkinan yang menakjubkan. “Mungkin kehidupan unggul di bumi dikembangkan komet yang menabrak bumi,” Shostak berspekulasi.

Rocco Mancinelli, ilmuwan SETI Institute, rekan Shostak, mengirim kritik keras pada kertas kerja Hoover. “Sebagai ahli mikrobiologi yang telah melihat ribuan mikroba melalui mikroskop dan mikroskop elektron, saya tidak melihat bukti yang meyakinkan bahwa partikel-partikel itu berasal dari biologis,” tulisnya melalui surat elektronik.

Dale Andersen, peneliti utama di Pusat Studi Kehidupan Carl Sagan di SETI Institute, juga mengirim reaksi lewat e-mail. “Saya akan benar-benar senang melihat cerita ini diverifikasi,” tulisnya. Hal itu penting karena bukan hanya membuktikan kehidupan berasal dari luar bumi, melainkan juga akan mendemonstrasikan asal-usul kehidupan yang independen. “Sesuatu yang akan benar-benar menakjubkan,” katanya.

Tak sedikit pula ilmuwan yang memberi dukungan kepada Hoover. Carl Gibson, ilmuwan dari Pusat Astrofisika dan Ilmu Pengetahuan Ruang Angkasa di Scripps Institute dan University of California di San Diego, menyatakan, “Dr. Hoover telah memberikan kepada dunia dengan bukti-bukti yang luar biasa untuk mendukung klaim yang luar biasa. Penemuan ini benar-benar mengubah perspektif kita tentang hakikat kehidupan.”

Chandra Wickramasinghe, Direktur Pusat Astrobiologi di Cardiff University, yang sering mengundang kontroversi karena pandangan-pandangannya tentang kehidupan dari angkasa, juga mendukung Hoover. “Dr. Hoover telah memberikan bukti yang menentukan pada dunia bahwa kita semua alien. Suatu fenomena yang benar-benar kosmik,” tulisnya.

Rohmat Haryadi

De Javu Tiga Presiden Demokrat

Sebuah kebetulan atau sejarah memang senang berulang. Ketika Presiden Amerika Serikat berasal dari Partai Demokrat, muncul klaim temuan kehidupan di planet lain. Sekarang, ketika Presiden Barack Obama dari Demokrat berkuasa, muncul klaim Richard B. Hoover, yang menemukan jejak kehidupan di meteorit. Namun reaksi Presiden Obama masih adem-ayem.

Hal berbeda ditunjukkan Presiden Bill Clinton, yang juga dari Partai Demokrat, ketika mengetahui temuan jejak kehidupan di meteorit ALH84001. Pada 7 Agustus 1996, Presiden Bill Clinton menggelar jumpa persdi Gedung Putih, didampingi penasihat ilmu pengetahuan dan teknologi, Dr. Jack Gibbons. Clinton membuat komentar berkaitan dengan pengumuman Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), yang mengklaim telah menemukan jejak kehidupan pada meteorit dari Mars itu.

“Pada hari ini, batu 84001 berbicara kepada kita semua tentang milyaran tahun yang lalu dan jutaan mil (dari bumi). Ia berbicara tentang kemungkinan adanya kehidupan. Jika penemuan ini dikonfirmasi, pasti akan menjadi salah satu yang paling menakjubkan bagi wawasan ilmu pengetahuan alam semesta kita yang pernah terungkap. Implikasinya luas dan menakjubkan, seperti dapat dibayangkan. Bahkan menjanjikan jawaban terhadap pertanyaan tertua kita,” katanya.

Pertanyaan tertua yang dimaksud adalah apakah ada kehidupan di luar bumi? Tim peneliti NASA menunjukkan struktur mikroskopis yang diyakini sebagai fosil bakteri yang disebut biomorphs. Fosil ini tertanam di bawah lapisan permukaan batu itu. “Ini bukti yang sangat kuat tentang kehidupan di Mars,” kata David McKay, ilmuwan senior di pusat antariksa NASA. Hal itu menunjukkan bahwa bakteri sudah hadir ketika meteorit tiba, bukannya hasil kontaminasi ketika jatuh di bumi.

Mikroskop elektron mengungkapkan, struktur rantai dalam fragmen meteorit ALH84001 mungkin bentuk fosil bakteri. Struktur yang ditemukan berdiameter 20-100 nanometer, ukuran yang sama pada nanobacteria. Temuan itu menjadi bukti kuat pertama adanya kehidupan di luar bumi. Begitu diumumkan, temuan peneliti NASA itu langsung mengundang polemik.

Lloyd H. Burckle dari Earth Observatory Universitas Columbia dan Jeremy S. Delaney dari Departemen Ilmu Geologi Universitas Rutgers, Piscataway, New Jersey, mengatakan bahwa jejak-jejak kehidupan pada ALH84001 bisa saja berasal dari kontaminasi biologis di bumi. Angin dari samudra dapat membawa bahan biologis jauh ke Antartika. Badai dari laut selatan kadang-kadang dapat menembus jauh ke Antartika dan membawa partikulat (termasuk partikulat biologis) yang tersapu dari laut.

Namun para ilmuwan NASA meragukan pendapat tentang kemungkinan kontaminasi mikroba terestrial. Sebab mikrofosil yang terbawa angin itu tidak menyerupai tekstur jejak kehidupan di ALH84001. Secara khusus, jejak kehidupan pada ALH84001 tertanam dalam bahan asli, kemungkinan bukan hasil kontaminasi.

Tidak hanya Clinton, Jimmy Carter, presiden dari Demokrat lainnya, juga terobsesi oleh kehidupan ruang angkasa. Dalam pidatonya yang direkam piringan emas wahana antarbintang Voyager, Carter berpesan pada peradaban lain. Berikut adalah kutipan pernyataan resmi Presiden Carter yang ditempatkan di pesawat ruang angkasa Voyager untuk perjalanan ke luar tata surya kita pada 16 Juni 1977.

“Kami mengirimkan pesan ini kepada seluruh alam semesta…. Yang terdiri dari 200 milyar bintang di Galaksi Bima Sakti, beberapa –mungkin banyak– di antaranya barangkali memiliki planet yang didiami oleh peradaban yang bisa melakukan perjalanan ke luar angkasa. Bila salah satu di antaranya bisa bertemu dengan Voyager dan mampu mengerti isi rekaman ini, inilah pesan dari kami: ‘Kami semua berusaha untuk mempertahankan keberadaan kami, sehingga kami bisa hidup bersama-sama dengan kalian’.”

Rohmat Haryadi

1 Komentar

  1. ulinnuha said,

    1 April 2011 pada 10:40

    Assalamualaikum ustadz
    absen dulu hihihi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: