Raksasa Penjaga Tepian Tata Surya


Ilmuwan Amerika mengklaim mendeteksi kehadiran planet baru di tata surya. Mereka mempelajari anomali peredaran komet. Ada massa besar yang membelokkan orbit komet itu.

Kuota planet yang mengorbit Matahari akan kembali berjumlah sembilan dengan ditemukannya planet baru di Tata Surya. Planet ini akan menggusur Jupiter yang selama ini dikenal sebagai planet terbesar di tata surya. Ukurannya 10 kali Jupiter atau 40 kali volume Bumi. Lima tahun silam, Pluto dikeluarkan dari jajaran planet dan masuk golongan planet kerdil. Sejak itulah, planet yang mengorbit Matahari tinggal delapan, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Daniel Whitmire dan John Matese dari University of Louisiana di Lafayette, Amerika Serikat, seolah ingin memulihkan jumlah dayang-dayang matahari itu kembali sembilan. Keduanya melansir temuan planet baru yang diberi nama Tyche (baca: ty kee) yang dituangkan dalam kertas kerja dalam jurnal internasional Icarus, awal Februari 2011. Tyche berada jauh di tepian tata surya. Dia mengorbit matahari dari jarak 15.000 satuan astronomi (SA). Satu SA sama dengan jarak Bumi-Matahari yang 150 juta kilometer.

Planet raksasa tersebut berada di awan Oort. Awan ini dipenuhi bongkahan es kotor. Milyaran bongkahan es itu melingkupi daerah dalam radius yang berjarak satu tahun cahaya atau seperempat dari jarak bintang terdekat Alpha Centauri. Rangkaian trio bintang Alpha Centauri merupakan bintang paling terang di belahan langit selatan. Gumpalan-gumpalan es kotor itu bersuhu mendekati nol absolut atau minus 273 derajat celsius.

Ketika terusik gravitasi benda langit lain, bongkahan es itu akan goyah. Mirip sarang kawanan lebah yang dilempar dengan batu. Es yang “rontok”, jika tertarik gravitasi matahari, akan meluncur dan membentuk orbit yang lonjong menuju Matahari. Bongkahan es itu membentuk komet. Es yang terpanaskan ketika mendekati Matahari membentuk ekor yang panjang.

Komet membentuk orbit dengan periode yang panjang. Komet Halley, misalnya, mendekati Matahari setiap 76 tahun sekali. Daniel dan John menemukan keberadaan Thyce setelah mengamati perilaku komet periode panjang. Koran The Independent melaporkan, dua ilmuwan itu mengajukan teori keberadaan planet tersebut untuk menjelaskan mengapa banyak komet periode panjang datang dari arah yang salah atau membetuk sudut yang lebih besar dari yang seharusnya.

Harus ada benda langit yang memiliki gravitasi besar yang bertanggung jawab membelokkan perjalanan komet itu. Dalam uraian tentang studi tata surya di jurnal Icarus, mereka melaporkan bahwa lebih dari 20% komet memiliki orbit yang menyimpang. Persentase itu terlalu banyak untuk sebuah kebetulan. Komet periode panjang diamati sejak 1898, datang dari sebuah tepi langit dengan sudut yang lebih besar.

Tidak ada proposal lain yang dikemukakan untuk menjelaskan anomali itu sejak pertama kali diusulkan 12 tahun silam. Maka, mereka mengusulkan bahwa planet Thyce yang bertanggung jawab menggoyang awan Oort, mengirim komet, dan membelokkan arah perjalanannya. Tetapi hipotesis tentang Tyche ini bukan tanpa kelemahan. Teori konvensional menyatakan bahwa sebuah planet gas raksasa seharusnya juga mengirim komet dari bagian dalam awan Oort. Tetapi komet yang berasal dari dalam awan Oort hingga kini tidak teramati.

Profesor Matese menyatakan kepada The Independent bahwa mereka menyerahkan keputusan kepada Perserikatan Astronom Internasional (IAU) untuk menentukan apakah Thyce bisa dianggap sebagai planet kesembilan yang baru. Argumen lain yang mendebat Matese menyatakan, Tyche mungkin saja terbentuk di sekitar bintang lain, kemudian tertangkap medan gravitasi Matahari. Sehingga IAU dapat memilih dan membuat kategori baru untuk Tyche.

IAU juga bisa memilih nama untuk planet gas raksasa itu. Untuk sementara, ia dijuluki Tyche. Nama ini memungut dari nama dewi Yunani yang mengatur nasib sebuah kota. Bisa jadi, Tyche berganti nama karena penamaan planet biasanya menggunakan dewa-dewi Yunani yang sebagian besar telah ditinggalkan. Nama sementara itu dipilih karena dalam referensi sebelumnya ada hipotesis bahwa Matahari mungkin merupakan sistem bintang biner. Sebab sebagian besar tata bintang di semesta merupakan sistem bintang yang berpasangan. Rekan Matahari diyakini lebih redup itu disebut Nemesis.

Nemesis  yang bertanggung jawab mengirim komet dari awan Oort. Dia bertanggung jawab atas kepunahan massal di Bumi. Dalam mitologi, Tyche adalah kakak Nemesis yang baik. Orbit Tyche yang ribuan kali jarak Bumi-Matahari menjelaskan mengapa dia belum teramati hingga kini.

Namun Whitmire percaya, Tyche akan terdeteksi dari bukti yang dikumpulkan teleskop antariksa inframerah milik NASA, Wide-Survey Explorer. Setelah itu, keberadaan Tyche dapat teramati dalam waktu dua tahun. “Jika tidak (benar), John dan saya akan melakukan jungkir balik. Dan itu tidak mudah pada usia kami,” kata Profesor Whitmire.

Whitmire menambahkan bahwa Tyche merupakan planet gas raksasa dengan komponen utama yang terbuat dari hidrogen dan helium, dengan suasana seperti Jupiter. Dia juga berwarna belang-belang, memiliki cincin dan awan. Whitmire juga meyakini bahwa Tyche memiliki bulan-bulan seperti umumnya planet gas. “Semua planet luar memilikinya,” kata Whitmire.

Karena berukuran sangat besar dan memiliki aktivitas yang dinamis, Tyche memiliki suhu lebih tinggi dari sekitarnya, yaitu minus 73 derajat Celsius. Jauh lebih panas daripada milyaran es kotor di sekitarnya yang membeku mendekati nol mutlak. Suhu itu sama dengan suhu Pluto yang dikeluarkan dari sistem tata surya. “Panas itu tersisa dari sejarah pembentukannya,” kata Whitmire.

Namun temuan Matese dan Whitmire itu ditanggapi secara skeptis oleh astronom Phil Plait. Dalam blog Bad Astronomy di situs Discover Magazine, ia mengakui telah membaca makalah Matese-Whitmire. Ia bilang, data mereka menarik, tapi tidak meyakinkan. Ukuran sampel penelitian terlalu kecil dan planet itu mungkin tidak ada sama sekali. “Apa yang saya ingin lihat adalah pengamatan planet itu,” tulisnya.

Hal Levison, seorang ilmuwan planet di Southwest Research Institute di Boulder, Colorado, yang baru-baru ini menulis di Science Magazine, sependapat dengan Plait. Ia meragukan Tyche, meskipun belum membaca versi baru kertas kerja Matese dan Whitmire.

“Mereka mengklaim memiliki analisis statistik lebih baik dari sebelumnya. Mereka juga pernah mengklaim melihat bukti objek itu,” kata Levison. Levison menyatakan bahwa dua astrofisikawan itu salah menganalisis data statistik.

“Klaim luar biasa memerlukan bukti yang luar biasa pula. Dan saya benar-benar yakin bahwa mereka tidak melakukan analisis statistik dengan benar,” tutur Levison. Seperti biasa, sulit untuk membuktikan atau tidak membuktikan apa pun yang tidak dapat dilihat atau disentuh. Karena itu, mengingat kebanyakan astronom tidak yakin, maka terlalu dini untuk dapat meyakini keberadaan Tyche.

Menanggapi kritik-kritik itu, Matese dan Whitmire tetap pada keyakinan mereka bahwa planet itu memang eksis. “Ada bukti bahwa beberapa komet dari awan Oort menampilkan keanehan orbit,” kata Matese. Dia menegaskan bahwa anomali itu disebabkan kehadiran planet di sana. “Pola merupakan indikasi bahwa ada planet di sana,” ujarnya. Berani jungkir balik?

Rohmat Haryadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: