Grigoriy Perelman Pertapa Virtual Supercerdas


Teka-teki matematika berusia lebih dari seabad berhasil dipecahkan Grigoriy Perelman. Ia menolak hadiah yang setara dengan Rp 9 milyar. Yayasan amal di Rusia mendesak Perelman agar menerima dan mengamalkannya.

“Saya tidak tertarik pada uang dan ketenaran,” ia menegaskan. Sikap itu ditunjukkan Grigoriy Perelman, 44 tahun, ketika The Clay Institute mengumumkan akan menghadiahi dia duit sejuta dolar, 18 Maret silam. Penghargaan itu diberikan atas sumbangan kecemerlangannya dalam memecahkan Dugaan Poincare (Conjecture Poincare).

Dugaan Poincare merupakan satu di antara tujuh misteri matematika yang telah bertahan seabad lebih. Pada 2004, The Clay Mathematics Institute di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, menjanjikan hadiah uang US$ 1 juta (Rp 9 milyar) kepada siapa pun yang memecahkan salah satu dari tujuh persoalan matematika itu. Setelah bertahan seabad lebih, Dugaan Poincare berhasil dipecahkan Perelman.

Dugaan Poincare kali pertama dirumuskan pakar matematika dari Prancis, Henri Poincare, pada 1904. Teka-teki ciptaan Poincare itu salah satu persoalan matematika yang paling rumit sepanjang sejarah. Dugaan itu adalah pertanyaan sentral dalam topologi, studi tentang sifat geometrik objek yang tidak berubah bila mereka menggeliat, menyimpang, atau menyusut.

Misalnya, cangkang berongga dari permukaan bumi adalah topologi lingkup dua dimensi. Setiap tali yang mengitarinya dapat ditarik ke titik yang ketat. Namun, di permukaan donat, laso melewati lubang di tengah tidak dapat menyusut ke titik tanpa memotong ketika melalui permukaan. Berarti topologi bola dan donat berbeda.

Sejak abad ke-19, matematikawan telah mengetahui bahwa bola adalah satu-satunya ruang tertutup dua dimensi. Tetapi mereka tidak pasti tentang objek-objek dengan dimensi lebih dari tiga. Dugaan Poincaré mengatakan bahwa sebuah bola tiga dimensi adalah satu-satunya ruang tertutup tiga dimensi tanpa lubang.

Pada April 2002, Martin John Dunwoody, profesor matematika dari Universitas Southamton, Inggris, menjajal memecahkan dugaan Poincare itu. Kertas kerja lima halaman pun dia luncurkan untuk membuktikan dugaan tersebut. Namun dalam naskah Dunwoody ditemukan cacat mendasar, sehingga upaya memecahkan salah satu misteri matematika itu gagal.

Pada tahun yang sama, Perelman, yang saat itu sebagai peneliti di Institut Matematika Steklov di St. Petersburg, mulai mem-posting karya ilmiahnya untuk memecahkan Dugaan Poincare. Setelah melalui berbagai tes yang ketat, terbukti bahwa dia benar.

Pada 2003, Perelman berhenti dari Institut Steklov. Teman-temannya mengatakan bahwa dia sama sekali mengundurkan diri dari matematika karena subjek itu terlalu menyakitkan untuk dibicarakan. Sejak itulah dia menjadi “pertapa virtual”.

Dia tinggal bersama ibunya yang sudah renta di sebuah flat yang menurut tetangganya penuh kecoa. Atas jasanya memecahkan Dugaan Poincare, Sir John Ball meluangkan waktu khusus terbang ke Rusia, pada Juni 2006. Presiden International Mathematical Union itu mengemban tugas untuk membujuk Grigoriy Perelman.

Perelman diminta menerima The Fields Medal, penghargaan tertinggi pada bidang matematika, yang diberikan setiap empat tahun. Toh, ilmuwan eksentrik itu menolak. Ball berusaha membujuknya. Setelah bertemu 10 jam di Petersburg, Ball pulang dengan tangan hampa.

Perelman punya beragam alasan untuk menolak segala penghargaan itu. Atas lobi Ball, Perelman mengatakan bahwa Ball mengusulkan tiga alternatif: pertama, menerima dan datang. Kedua, menerima dan tidak datang, namun akan mengirimkan medali itu. Ketiga, menolak hadiah itu. “Dari awal kukatakan kepadanya bahwa aku telah memilih, hadiah benar-benar tidak relevan bagiku,” katanya.

“Aku tidak tertarik pada uang atau ketenaran,” Perelman menegaskan. Lebih jauh, Perelman menyatakan tidak ingin menjadi tontonan. “Saya tidak ingin ditampilkan seperti hewan di kebun binatang.”

“Aku bukan pahlawan matematika. Aku bahkan tidak berhasil. Itulah sebabnya saya tidak ingin semua orang menatapku,” Perelman menegaskan. Dia satu-satunya yang menolak penghargaan yang disebut-sebut sebagai “Hadiah Nobel”-nya matematika itu.

Setelah Perelman menolak penghargaan itu, kini dia bikin ulah lagi. Dia juga menolak hadiah dari The Clay Mathematics Institute setelah pemecahan atas Dugaan Poincare dinyatakan benar oleh para pakar matematika.

Dia menilai kontribusinya dalam membuktikan Dugaan Poincare tidak lebih hebat daripada Richard Hamilton, ahli matematika Amerika Serikat. Hamilton yang pertama kali mengusulkan program untuk solusi tersebut. “Saya sudah memiliki semuanya,” katanya.

Donal O’Shea, profesor matematika dari Massachusetts, mengatakan bahwa terpecahkannya Dugaan Poincare akan membantu menentukan bentuk jagat raya. “Poincare mengubah matematika abad ke-20 dengan mengajarkan kita tentang cara memikirkan bentuk ideal model jagat raya,” kata penulis buku The Poincare Conjecture itu.

***

Grigoriy Perelman lahir di Leningrad, Uni Soviet (sekarang St. Petersburg, Rusia), 13 Juni 1966. Ludmila, ibunya, adalah sarjana matematika. Talenta itu menurun padanya. Bakatnya semakin terasah ketika pada usia 10 tahun, ibunya mendaftarkannya pada sekolah pelatihan matematika Sergei-Rushkin. Dia melanjutkan di Sekolah Menengah Leningrad, sebuah sekolah khusus dengan program matematika dan fisika.

Pada 1982, Perelman menjadi anggota tim Olimpiade Matematika Internasional dari Uni Soviet. Dia memenangkan medali emas, mencapai skor sempurna. Perelman memperoleh doktor dengan disertasi mengenai permukaan pelana pada Ruang Euclidean. Setelah lulus, dia bekerja di Institut Matematika Steklov. Pada 1992, dia diundang untuk program satu semester Universitas New York.

Pada 1993, dia mendapat beasiswa dari Miller Research Fellowship untuk kuliah di Universitas California, Berkeley. Pada 1994, ia ditawari pekerjaan di beberapa universitas terkemuka di Amerika Serikat, termasuk Princeton dan Stanford, tetapi dia menolak. Dia balik ke Steklov Institute di St. Petersburg pada musim panas 1995 sebagai peneliti biasa.

Dia dinobatkan sebagai manusia paling cerdas sejagat setelah memecahkan Dugaan Poincare. Ketika dia menolak hadiah Rp 9 milyar, sebuah yayasan amal untuk anak-anak di St. Petersburg mendesaknya untuk mengambil uang itu dan memberikannya untuk amal.

Rohmat Haryadi
Tujuh Misteri Matematika

1. Dugaan Birch dan Swinnerton-Dyer: Geometri Euclid untuk abad ke-21, melibatkan fungsi zeta serta jawaban-jawaban terbatas dan tidak terbatas untuk persamaan-persamaan aljabar.

2. Dugaan Poincare: Permukaan bola saling tersambung secara sederhana. Tetapi, permukaan sebuah donat tidak.

3. Dugaan Hodge: Tepian batas antara aljabar dan geometri, melibatkan persoalan teknis dari bentuk-bentuk bangunan dengan merekatkan blok-blok geometri secara bersamaan.

4. Persamaan Navier-Stokes: Matematikawan dan fisikawan percaya bahwa penjelasan dan prediksi angin dan turbulensi dapat ditemukan melalui pemahaman tentang solusi persamaan Navier-Stokes.

5. P versus NP: salah satu masalah yang luar biasa dalam ilmu komputer adalah dapat dengan cepat membenarkan jawaban, tetapi mungkin butuh waktu lama bila harus memecahkannya dari awal.

6. Hipotesis Riemann: Pembagian bilangan prima seperti di antara semua bilangan natural tidak mengikuti pola teratur. Frekuensi bilangan prima sangat erat kaitannya dengan perilaku fungsi yang rumit.

7. Yang-Mills dan Selisih Massa: kuantum partikel mempunyai massa yang positif, meskipun gelombang itu secepat cahaya. Percobaan dan simulasi komputer telah mengonfirmasi temuan itu, tetapi masih belum dipahami dari sudut pandang teoretis.

1 Komentar

  1. dyah istiarini said,

    24 September 2010 pada 10:40

    kereeeen, tapi banyak yg nggak ngerti…hehehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: