Anak Tangga ke Planet Merah


Misi ruang angkasa mencatat sejumlah sukses. Dari penemuan semikonduktor baru hingga perbaikan teleskop di angkasa. Juga penangkapan satelit yang kesasar.

TAK ada kata mundur dalam kamus Lembaga Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA). Hanya 21 bulan setelah Apollo 1 terbakar pada 1967, NASA berhasil mengirim Apollo 11 ke bulan. Waktu untuk pulih setelah ledakan Challenger awal 1986 juga tak sampai tiga tahun. Meledaknya pesawat ulang-alik Columbia, 1 Februari lalu, juga dipastikan tak akan membuat langkah NASA surut dalam mengeplorasi angkasa luar.

Memang seperti dikhayalkan Johannes Kepler, pada abad ke-17, tentang perahu-perahu angkasa yang menggunakan angin matahari untuk menyeberangi angkasa menuju Mars, ribuan misi ke angkasa luar telah dilakukan manusia. Anak-anak perahu yang diangankan Kepler adalah astronot-astronot modern saat ini. Dalam misi ruang angkasa itu, tak sedikit nyawa astronot menjadi korban.

Lepas dari soal bahaya itu, misi angkasa luar Amerika Serikat dengan pesawat ulang-aliknya menorehkan sejumlah prestasi. Endeavour, misalnya, pada 4 Desember 1993 sukses memperbaiki teleskop Hubble, yang mengalami “rabun dekat”. Teleskop angkasa luar raksasa itu menempati orbitnya 587 kilometer di atas permukaan laut, setelah diantar Discovery, 29 April 1990. Ternyata, lensanya mengalami kesalahan konstruksi, bergeser sepersekian mililimeter. Citra yang dihasilkan kurang sempurna.

NASA pun kecewa. Untuk merampungkan teleskop yang terpasang pada konstruksi logam campuran sepanjang 20 meter itu, NASA melibatkan 10.000 ahli, dan menelan biaya US$ 2 milyar atau Rp 20 trilyun. Ahli NASA melatih astronotnya bergerak di dalam air, untuk latihan melakukan perbaikan di angkasa luar. Tingkat kesulitannya sangat tinggi. Ibarat memakai sarung tangan bisbol untuk memperbaiki arloji.

Tiga tahun setelah Hubble mengangkasa, Endeavour terbang mengejar teleskop yang mengorbit dengan kecepatan 27.000 kilometer per jam itu. Misi yang melibatkan tujuh astronot ini berhasil memberi “kacamata” pada Hubble, sehingga sembuh dari rabun dekatnya. Panel sel surya sepanjang 12 meter juga diganti.

Tepat sebelum Columbia menemui ajal di misi ke-28, pada misi ke-27 ia juga berurusan dengan Hubble. Columbia mengirim astronot untuk memperbaiki teleskop yang berada di atas Samudra Pasifik, barat daya Meksiko itu, 1 Maret 2002. Columbia berhasil menangkap Hubble yang berlari kencang, setelah dua hari memburunya.

Hubble seberat 12,5 ton itu ditangkap dengan lengan robot. Perbaikan dilakukan dengan mengganti kamera, sumber tenaga listrik, dan memeriksa kabel-kabel. Pekerjaan terakhir, astronot John Grunsfeld memasang sepasang sayap sel surya baru. Pekerjaan itu memaksa astronot berjalan-jalan lepas di antariksa.

Dengan perbaikan itu, Hubble bisa melihat alam semesta lebih jauh, bahkan hingga ke tepi jagat raya. Dan memotretnya, dengan hasil foto lebih tajam dan detail. Menurut Ron Dittermore, Manajer Program Ulang-Alik, kemampuan Hubble meningkat 10 kali lipat.

Terobosan di bidang keantariksaan juga dicatat astronot Amerika, saat menangkap satelit Palapa B-2 yang hilang setelah diluncurkan awal Februari 1984. Semula, awak Challenger bimbang untuk melepas Palapa, karena sebelumnya mereka melepas satelit Westar VI, dan hilang tak tentu rimbanya.

Walaupun astronot kehilangan kontak dengan Westar VI, toh Palapa dilepas juga pada 6 Februari 1984. Nasibnya tak lebih baik dari kembarannya. Dia melenceng dari orbit karena kesalahan pada roket pendorongnya. Toh, awak Challenger masih bisa merayakan sukses misinya dengan berjalan-jalan di luar angkasa.

Pada 10 November 1984, pesawat ulang-alik Discovery melesat dari Pusat Ruang Angkasa Kennedy di Cape Canaveral, Florida. Bagian misi paling dramatik adalah pengambilan satelit Palapa B-2, dan Westar VI, yang salah orbit. Astronot Joe Allen melesat menghampiri Palapa, dua hari setelah take off. Allen berhasil menangkap satelit Palapa B2, dan mengikatnya dalam waktu 15 menit.

Selanjutnya, Palapa ditarik masuk kargo setelah pintu raksasa di punggung Discovery terbuka. Berikutnya, mereka mengincar Westar VI. Tim penyelamat satelit Discovery, dua hari kemudian, berhasil menggaet satelit Westar VI, yang bergelandangan di angkasa luar bersama Palapa B2. Astronot “pejalan angkasa” Dale Gardner berhasil mengikat Westar, untuk selanjutnya diseret ke kargo Discovery.

Ihwal gandengan di angkasa luar, Uni Soviet tidak mau ketinggalan. Setelah membangun stasiun ruang angkasa MIR (Perdamaian), 19 Februari 1986, “negeri beruang merah” itu mengirim pesawat antariksa untuk berlabuh di MIR. Sukses itu dicatat ketika pesawat ruang angkasanya, Soyuz TM-6, berhasil bergabung dengan stasiun MIR, 31 Agustus 1988. Soyuz mengangkut tiga penumpang, dan diberangkatkan dari stasiun peluncuran Baikonur, Asia Tengah.

Setelah itu, sesuai dengan namanya, MIR menjadi ajang perdamaian antara Amerika dan Uni Soviet. Pesawat ulang-alik Amerika tak segan-segan bergabung dengan stasiun berbobot 20 ton itu. Atlantis tercatat tujuh kali bersilaturahmi ke MIR, terakhir 27 September 1997. Menyusul Endeavour bergabung dengan MIR, 25 Januari 1998, mengantarkan astronot Andrew Thomas melakukan riset ilmiah selama empat bulan.

Sebelum hancur pada 23 Maret 2001, MIR menjadi tujuan penting untuk eksperimen di antariksa. Bahkan, pada 12 Desember 1996, di sana panen gandum, hasil proyek rumah kaca yang menanam 32 butir gandum. Percobaan itu bermanfaat untuk menghasilkan bahan makan, saat menempuh perjalanan jauh di antariksa. Misalnya, perjalanan manusia menuju Mars.

Sepanjang hayatnya, kurang lebih 23.000 eksperimen dilakukan di MIR. Meliputi uji coba di bidang teknologi, biologi, dan lain-lain. Di bidang teknologi, dengan kondisi tanpa bobot, dimungkinkan untuk memproduksi semikonduktor, logam super-ringan, kristal protein, serat optik, dan obat-obatan. Sebab, banyak bahan yang ketika di bumi ogah bercampur karena pengaruh gravitasi. Di daerah mikrogravitasi, mereka enak saja bergandengan tangan. Misalnya lithium niobate (LiNbO3), polimer yang tidak larut dalam molekul organik. Di daerah mikrogravitasi, zat ini terlarut dengan mudah.

Tidak hanya di stasiun ruang angkasa, di dalam pesawat ulang-alik pun tersedia laboratorium mikrogravitasi (LMG). Columbia, yang meluncur 20 Oktober 1995, dilengkapi LMG untuk lima bidang penelitian, antara lain fisika fluida, material, dan bioteknologi. Satu di antaranya meneliti manfaat, dan pertumbuhan kristal protein dari bakteri tertentu. Secara umum, kristal itu tumbuh lebih cepat dibandingkan jika di Bumi.

Dalam dunia pertanian, kristal protein bakteri Bacillus thuringiensis berfungsi membunuh hama. Tumbuhan pangan yang disisipi gen bakteri itu akan mampu menghasilkan pestisida alami untuk melawan hama. Namun, tumbuhan pangan transgenik ini mengundang protes. Toh, hasil eksperimen misi angkasa luar itu banyak yang belum sampai taraf industri. Tak mudah menciptakan ruang mikrogravitasi di bumi, apalagi untuk keperluan industri.

Penelitian lain di pesawat ulang-alik banyak menyangkut kesehatan. Terutama penelitian osteoporosis –kerapuhan tulang– akibat tinggal di lingkungan tanpa bobot. Lagi-lagi, penelitian itu untuk mengantisipasi akibat perjalanan jauh ke Mars yang makan waktu berbulan-bulan. Pesawat ulang-alik dan lab ruang angkasa seolah menjadi batu pijakan ke Mars.

Planet Mars memang menjadi target penting. Pesona planet merah yang menjadi simbol Dewa Perang dalam mitologi Yunani ini memang selalu menggoda. Manusia sering membayangkan membangun koloni baru di sana. NASA sendiri bertekad menaklukkan Mars sesegera mungkin.

Rohmat Haryadi

1 Komentar

  1. santi said,

    27 Oktober 2010 pada 10:40

    nice post


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: