KIAMAT 2014
Melacak Jejak Aliens Pewaris Semesta

Oleh: Rohmat Haryadi

SINOPSIS

Asteroid berdiameter 1,2 kilometer, berbobot 2,6 milyar ton, melaju dengan kecepatan 115.000 kilometer per jam. Dia akan menabrak Bumi, Jum’at, 21 Maret 2014. Daya ledaknya 20 juta kali bom atom Hiroshima. Siapakah  pewaris semesta setelah kehidupan di Bumi musnah?

Sebuah kejadian yang nalar, jika sejumlah asteroid yang mengorbit Matahari berpotensi menabrak Bumi. Sepanjang hayatnya, planet ketiga dari Matahari itu sudah berkali-kali mengalami benturan dengan benda langit anggota Tata Surya lainnya. Bahkan, setiap hari sekitar 25.000 ton material angkasa menerjang Bumi.

Material angkasa yang menerpa Bumi itu kebanyakan terbakar habis ketika bersentuhan dengan atmosfer. Meninggakan jejak berupa seleret cahaya bintang beralih yang mencoret mangkuk langit. Material yang menghadang orbit Bumi itu umumnya berukuran kecil. Jika berukuran cukup besar, maka akan menumbuk permukaan Bumi, dan disebut meteorit. Seperti yang menjatuhi rumah di Duren Sawit, Jakarta Timur, 29 April 2010.

Meteorit yang jatuh di Duren Sawit diperkirakan berukuran sebesar buah kelapa. Itupun sudah sanggup merusak tiga buah rumah. Jika meteorit berukuran sangat besar, dampak yang timbul akan jauh lebih hebat. Jika jatuh di laut, akan menimbulkan tsunami yang hebat di sepanjang pantai di seluruh dunia.

Bila menggebuk daratan, menimbulkan luka bintang berupa kawah yang sangat besar. Tumbukannya menggetarkan seluruh permukaan Bumi. Debunya menutupi angkasa bumi yang menyebabkan sinar Matahari tak lagi bertaji. Akibatnya, terjadi pendinginan global yang dahsyat. Kejadian seperti inilah yang memusnahkan Dinosaurus.

Sebuah asteroid berdiameter satu kilometer, akan menimbulkan gelombang kejut dengan kekuatan 20 juta kali bom atom di Hiroshima. Kehidupan di Bumi akan tersapu gelombang kejut itu. Sehingga bisa disebut sebagai kiamat atau berakhirnya kehidupan di Bumi. Nah, manusia tentunya sangat mewaspadai kemungkinan nyelonongnya asteroid besar menabrak Bumi.

Karena hingga saat ini manusia diketahui sebagai satu-satunya makhluk berkesadaran yang menikmati keindahan semesta. Bagaimana jika manusia musnah? Apakah masih ada makhluk berkesadaran lainnya yang menikmati semesta raya yang maha luas itu? Manusia kini sedang getol mencari “saudara” di planet lain. Untuk memastikan jika Bumi mengalami kehancuran, maka ada makhluk berkesadaran lainnya yang menikmati semesta.

Tentunya makhluk-makhluk itu menempati planet serupa Bumi. Bumi dikenal memiliki berbagai keunikan. Planet ketiga di Tata Surya itu merupakan planet yang menopang kehidupan. Tidak sekedar membangkitkan kehidupan, namun juga mendorong kehidupan berevolusi sedemikian rupa sehingga sampai pada taraf kehidupan cerdas. Berbagai faktor yang menguntungkan telah mendukung kemampuan planet biru itu dalam mengembangkan kehidupan.

Posisi Bumi di zona layak huni (habitable zone) menghadirkan air dalam bentuk cair di permukaannya. Air merupakan pelarut biokimia yang baik dan faktor penting dalam mendukung evolusi kimia. Wajar jika kehidupan bermula dalam air, sebelum naik ke daratan. Begitu naik ke daratan kehidupan semakin berkembang tidak tertahankan. Terbukti hampir seluruh benua di dunia ditutupi hutan lebat yang dihuni jutaan jenis binatang.

Bumi juga mengorbit bintang yang berusia panjang, sehingga memberikan cukup waktu pada kehidupan untuk berkembang. Matahari yang bertahan hidup hingga 10 milyar tahun, memberikan kesempatan kehidupan di Bumi yang berevolusi sejak 3,5 milyar tahun silam. Waktu yang memungkinkan kehidupan berkembang sampai pada makhluk berkesadaran yang mampu mengembangkan peradaban.

Peradaban itu mengantar rasa ingin tahu tentang keberadaannya di semesta. Yaitu apakah manusia hanya sendirian? Untuk memecahkan keterasingan itu, berbagai upaya dilakukan untuk menelisik kehidupan di tempat lain. Mulai dari menyelidiki planet-planet tetangga hingga meneliti bulan-bulan planet-planet raksasa di Tata Surya.

Banyak menanggapi skeptis terhadap kemungkinan ada kehidupan di planet lain. Bumi dipandang sebagai pusat biologis alam semesta. Apalagi setelah teori-teori panspermia yang memandang kehidupan meluas di seluruh kosmos tidak menjawab pertanyaan mendasar mengenai kapan dan di mana kehidupan bermula. Teori panspermia adalah keyakinan bahwa “benih-benih kehidupan” ada di mana-mana.

Bahwa berbagai “benih-benih kehidupan” itu tertanam dalam meteor, asteroid, dan komet, dan jatuh ke Bumi, serta planet-planet lain yang layak dihuni di alam semesta. Kemajuan di bidang astronomi, astrobiologi, dan penemuan varietas extremophiles (makhluk hidup yang eksis di lingkungan yang sangat ekstrim) yang memiliki kemampuan luar biasa, mendorong keyakinan bahwa kehidupan dapat berkembang pesat di banyak planet di luar Bumi.

Keyakinan itu didukung peningkatan jumlah penemuan planet luar Surya yang terdeteksi selama dua dekade terakhir. Pencarian kemungkinan adanya kehidupan di planet lain di luar Tata Surya menjadi semakin bergairah dan menantang. Buku ini mencoba mengkaji kemungkinan menemukan kehidupan di planet-planet lain di luar Bumi. Keberadaan molekul-molekul organik di awan antar bintang, komet dan asteroid, dan bukti asam amino dalam meteorit karbon juga mendukung prespektif kosmik tentang asal-usul kehidupan.

Namun agar kehidupan berkembang memerlukan faktor pendukung yang lengkap. Karena benih kehidupan itu akan mati jika jatuh ditempat yang tidak tepat. Planet yang mendukung kehidupan selain berada di zona habitable, dan bintang berumur panjang, juga berkait dengan posisi bintang di galaksi. Jika terlalu dekat dengan pusat galaksi, kehidupan akan musnah terpapar sinar-sinar kosmik yang dahsyat akibat aktivitas bintang-bintang tua yang sekarat.

Gravitasi bintang-bintang tua itu juga akan mengguncang awan Oort sebagai gudang tempat muasal komet. Sehingga akan mengirim komet dalam jumlah besar, sehingga planet yang mengorbit bintang dekat pusat galaksi akan mengalami penghujanan komet yang luar biasa. Sehingga kehidupan akan musnah sebelum sempat berkembang.

Posisi Matahari cukup strategis karena berada di pinggiran piringan galaksi. Sehingga terhindar dari bencana kosmik yang dikirim aktivitas di pusat galaksi. Planet yang berkehidupan juga sangat tergantung pada jenis bintang. Karena hanya bintang-bintang yang mengandung kadar logam yang tinggi yang bisa menghasilkan planet-planet darat dengan inti besi yang mendukung berkehidupan.

Aktivitas pusaran dalam inti planet akan menghasilkan medan magnet yang melindunginya dari paparan angin bintang yang menguras atmosfer dan samudera di atas planet. Kehadiran bintang inang dengan kecukupan logam akan membentuk planet terestrial (darat), dan lingkungan bebas dari hempasan supernova akan mendukung kehidupan. Zona layak huni galaksi berada pada daerah antara 7 dan 9 kiloparsec dari pusat galaksi.

Daerah itu dihuni bintang-bintang yang berusia antara 4 dan 8 milyar tahun. Bintang-bintang yang menghuni zona kehidupan galaksi  besar kemungkinan menghasilkan kehidupan yang kompleks yang meramaikan galaksi kita. Jika sistem Tata Surya merupakan bangunan yang umum di Bima Sakti, maka kehidupan di bintang lain merupakan bentuk yang umum pula.

Karena itu ilmuwan berusaha mencari bintang-bintang yang mirip Matahari untuk mencari planet-planet yang kehidupan. Namun, bintang-bintang yang mirip Matahari disinyalir bukan tempat terbaik untuk mendukung evolusi kehidupan. Bintang kerdil oranye yang berusia lebih panjang dari Matahari disinyalir lebih prospektif untuk mendukung kehidupan.

Apalagi posisi zona layak huni cukup jauh dari bintang, sehingga planet tidak terkunci. Jika planet terkunci, maka satu wajahnya kan terus menerus menghadap bintang sehingga akan mengalami pemanasan terus menerus. Di satu sisinya akan mengalami kegelapan abadi. Namun demikian, akibat efek rumah kaca, daerah malam dan siang memiliki temperatur yang tidak jauh berbeda.

Itulah yang terjadi di Venus. Meskipun tidak terkunci, rotasi Venus sangat lambat sehingga sehari di Venus lebih panjang dari satu tahun Venus. Bintang kerdil merah diduga mengunci planet-planet yang berada di zona layak huni. Karena zona layak huni sangat dekat dengan bintang yang bersuhu “dingin” itu.

Buku ini berupaya mengupas berbagai sisi syarat-syarat planet berkehidupan. Juga tentang kandidat terbaik planet berkehidupan. Temuan itu tentunya memberi harapan bagi manusia bahwa dia tidak sendirian di semesta yang maha luas ini. Juga memecahkan keterasingan manusia di semesta.

Mengingat jarak antar bintang yang renggang, manusia telah melakukan berbagai upaya menelisik, bahkan berkomunikasi dengan kehidupan di luar Bumi. Lewat misi Pioneer 10 dan 11, Voyager 1 dan 2, manusia mengirim pesan kepada alien yang menemukan wahana antar bintang tersebut. Namun, untuk mencapai bintang terdekat Voyager memerlukan waktu sekitar 300.000 tahun.

Upaya lain ditempuh dengan mengirimkan gelombang radio ke bintang-bintang yang ditengarai mengandung planet hidup. Toh, pesan secepat cahaya itu mengalami jeda panjang karena jarak bintang tetangga dalam takaran tahun cahaya. Misalnya, untuk jarak 20 tahun cahaya, balasan baru akan diterima 40 tahun kemudian. Maka, langkah lainnya menangkap pesan-pesan dari bintang lain menggunakan teleskop radio di Bumi. Ada sinyal yang telah tertangkap, namun pesan itu tak berlanjut.

Ilmuwan kini tengah mencari wahana yang lebih laju daripada Voyager maupun Pioneer. Buku ini juga menganalisa bagaimana Unidentified Flying Object (UFO) yang diduga makhluk angkasa luar dari planet lain menghampiri Bumi. Berapa kecepatan wahana mereka, agar tetap mematuhi hukum relativitas Einstein, dimana tidak ada kecepatan yang melebihi cahaya.

Buku ini bisa jadi merupakan sedikit tanggapan terhadap buku-buku yang beredar tentang Kiamat 2012. Kelebihan buku ini yaitu menguraikan kiamat dengan prespektif ilmu pengetahuan yang lebih jernih. Bukan hanya sekedar mithos seperti habisnya penanggalan bangsa Maya, 21-12-2012, yang ditautkan dengan posisi lurus pusat galaksi, matahari dan bumi.

Bahwa setiap akhir tahun, posisi itu selalu berulang. Hingga sekarang siklus itu sudah terjadi 4,5 milyar kali –sesuai usia Bumi. Dan bumi tidak tergores sedikit pun akibat posisi itu. Jadi tidak nalar jika posisi itu akan menyebabkan bumi berantakan alias kiamat. Jadi kiamat versi habisnya penanggalan itu bersifat spekulatif. Bahkan itu menjurus pada pseudosains (ilmu semu). Seolah-olah ilmiah, tetapi sebenarnya tidak mematuhi kaidah-kaidah ilmiah.

Kiamat 2014 mencoba memberikan penjelasan yang lebih nalar tentang kiamat. Yaitu akibat dari sebuah katastrofi hebat akibat benturan bumi dengan asteroid. Hingga kini ilmuwan  terus mengamati asteroid memiliki orbit yang menyimpang sehingga dapat memotong lintasan orbit Bumi. Asteroid ini digolongkan sebagai Near Earth Asteroid (NEA). Asteroid yang dekat dengan Bumi atau yang mendekati Bumi.

Asteroid masuk kelompok NEA jika jarak orbitnya dari Matahari mencapai 195 juta kilometer atau kurang. NEA potensial mengakhiri kehidupan manusia di Bumi. Siapakah pengganti manusia sebagai pengamat semesta, jika kiamat tiba? Manusia kini sibuk mencari kehidupan lain di luar Bumi. Mulai dari menelisik planet-planet di Tata Surya, hingga meneropong planet-planet di luar Tata Surya.

Nah, lika-liku perjuangan manusia melacak jejak alien “pewaris” semesta, dibahas secara panjang lebar dalam buku ini. Apakah kehidupan hanya di Bumi, atau merupakan bentuk umum di berbagai tempat di Semesta?*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: