Kala Tata Surya Tak Lagi Sembilan


Temuan planet cadas baru kembali mengusik status keplanetan Pluto. Memperkuat teori ada 1.000 Pluto di luar sana.

AWALNYA para astronom menduga, itu hanya sebuah benda langit biasa. Laiknya bintang kecil di keremangan langit. Hingga dua tahun kemudian, awal 2005, mereka memastikan, benda itu bergerak mengitari Matahari, seperti Mars, Bumi, dan Venus. Benda itu ditemukan jauh di seberang Pluto, planet yang selama ini kita yakini paling jauh dari Matahari.

Jarak nun jauh itu membuat cahaya Matahari tak lagi bertaji di sana. Temperatur di sana tak pernah beranjak jauh dari 30 derajat di atas nol mutlak, atau minus 243 derajat celsius. Tentu ini membuat dunia baru itu gelap dan beku. Yang membuatnya istimewa, dialah benda langit terbesar di tata surya sejak Johann Gottfried Galle, astronom Jerman, dan asistennya, Heinrich Louis d’Arrest, menemukan Neptunus pada 23 September 1846.

“Dia lebih besar dibandingkan dengan Pluto,” kata Dr. Mike Brown dari Institut Teknologi California, saat mengumumkan temuan planet baru itu, 29 Juli lalu. Planet yang belum dinamai itu ditemukan Brown dan koleganya dengan menggunakan teleskop Samuel Oschin di Observatorium Palomar, dekat San Diego, Amerika Serikat.

Planet itu berjarak sekitar 14,5 milyar kilometer atau 97 satuan astronomi (SA) dari Matahari. Satu SA adalah jarak Bumi-Matahari atau sekitar 150 juta kilometer. Sebagai pembanding, Pluto mengorbit pada 36 SA dari Matahari. Posisi 97 SA itu terletak di daerah Sabuk Kuiper (Kuiper Belt). Ini adalah kawasan gelap di seberang Neptunus, tempat ribuan gumpalan es mengorbit Matahari. Planet baru itu tampak seperti salah satu objek Sabuk Kuiper.

Para astronom hanya bisa melihat benda itu dengan teleskop gede. Tapi jangan mengharap pemandangan mengesankan: dia terlihat seperti bintik cahaya suram, dengan magnitudo 19. Magnitudo adalah ukuran kecemerlangan sebuah benda langit. Semakin besar harga magnitudo, makin suram. Matahari sebagai benda paling terang memiliki magnitudo minus 26,8.

Planet baru itu bergerak sangat lambat. “Dia sekarang tampak sangat jelas di belahan langit sebelah timur di konstelasi Cetus (ikan paus),” kata Brown. Saking pelannya gerakan, dia butuh 560 tahun untuk menyelesaikan satu putaran mengelilingi Matahari.

Selain Brown, planet baru itu juga ditemukan oleh Chad Trujillo dari Observatorium Gemini di Mauna Kea, Hawaii, dan David Rabinowitz dari Universitas Yale, New Haven, Connecticut. Mereka pertama kali memotret planet baru itu dengan teleskop 48 inci Samuel Oschin pada 31 Oktober 2003.

Objek itu pertama kali diobservasi pada 21 Oktober 2003, tetapi mereka tidak melihat benda itu bergerak di langit. Pergeseran tempat di langit ini penting karena merupakan salah satu tanda bahwa benda langit itu mengorbit Matahari. Itulah yang membedakan planet dengan bintang.

Posisi bintang relatif tetap, sedangkan planet bergeser terhadap bintang di belakangnya. Karena bergerak pelan, perubahan posisi planet baru itu baru diketahui pada 8 Januari 2005 atau 15 bulan kemudian.

Ukuran benda ini setara dengan sembilan planet penghuni tata surya. “Maka, dia dapat diklasifikasikan sebagai planet,” kata Brown. Artinya, inikah planet ke-10 setelah Pluto?

“Kami 100% yakin, dia objek pertama yang lebih besar dari Pluto,” Brown menambahkan. Untuk memperkirakan berapa ukuran planet itu, astronom mengacu pada pengukuran kecemerlangan benda itu. Seperti umumnya planet, mereka memantulkan cahaya Matahari. Semakin gede planet, semakin besar cahaya pantulannya. “Kemungkinan satu setengah kali ukuran Pluto, tetapi kami tidak yakin bahwa ini ukuran final,” katanya.

Untuk memastikan ukuran planet itu dicoba dengan menggunakan NASA’s Spitzer Space Telescope, yang peka terhadap radiasi panas. Namun Spitzer gagal mendeteksi planet baru itu. Planet itu sementara dinamai 2003 UB313. Nama tetap akan diusulkan penemunya di Persatuan Astronom Internasional.

Selain Brown, rasa bungah juga disampaikan David Rabinowitz pada BBCNews: “Ini hari yang luar bisa dan tahun yang luar biasa,” katanya. 2003 UB313, yang dia potret satu setengah tahun lalu itu, kemungkinan lebih besar dari Pluto. “Dia memang tampak lebih lemah dibandingkan dengan Pluto, tetapi (karena) dia tiga kali lebih jauh,” ujarnya.

Jika berjarak sama dengan Matahari-Pluto, menurut dia, UB313 pasti lebih terang. Temuan itu, lanjutnya, menjadikan Pluto tidak unik lagi. “Karena ada banyak Pluto lain. Hanya saja, jauh di luar tata surya,” katanya. Permukaan UB313 memang sangat mirip dengan Pluto. Terdiri dari cadas dan gumpalan es.

Sementara Chad Trujillo merasa sangat beruntung menjadi bagian dalam penemuan itu. “Tidak setiap hari kamu bisa menemukan sesuatu sebesar Pluto atau yang lebih besar,” ujarnya.

Temuan UB313 kembali menyulut debat definisi sebuah objek untuk bisa disebut planet. Debat serupa terjadi ketika ditemukannya Quaoar (2002) dan Sedna (Gatra 26 Maret 2004). Waktu itu, posisi Pluto (diameter 2.360 kilometer) masih cukup ajek, karena ukuran Quaoar (1.250 kilometer) maupun Sedna (1.600 kilometer) masih lebih kecil. Tapi kini, UB 313 (diameter 2.600 kilometer) lebih besar.

Objek-objek itu umumnya membentuk sudut ekstrem dengan bidang utama tempat planet tata surya mengorbit. UB313 membentuk sudut hingga 45 derajat dengan bidang utama sistem surya. Karena itu, sebagian astronom berpendapat, benda-benda seperti itu adalah objek Sabuk Kuiper, bukan planet.

Pluto juga digolongkan sebagai objek Sabuk Kuiper, karena orbitnya menyimpang 17 derajat terhadap bidang datar tata surya. Brown sendiri termasuk kelompok yang sepakat menurunkan status keplanetan Pluto.

Tapi kali ini dia menyokong pendapat berbeda. “Pluto adalah planet yang sudah lama dikenal dunia, dan kita menyenangi fakta itu,” kata Brown. NASA membenarkan ide tersebut. Pada statemennya, NASA mendukung bahwa 2003 UB313 adalah planet ke-10.

Namun kesimpulan NASA tak mengubah pendirian Brian Marsden, Direktur The Minor Planet Center, Observatorium Harvard. Jika Pluto adalah planet, maka objek lain yang mendekati ukuran Pluto seharusnya disebut planet juga. Logikanya, jika 2003 UB313 planet, maka dia akan diikuti objek-objek lain yang telah ditemukan. Karena itu, jumlah planet Matahari tak lagi sembilan, melainkan 10, 11, dan seterusnya, seiring temuan para astronom. Karena itu, “Saya tidak akan menyebutnya planet ke-10,” ujar Marsden kepada Space.com.

Alan Boss, teoretikus formasi planet dari Institusi Carnegie di Washington, menyebut temuan itu sebagai “sebuah langkah besar”. Tetapi Boss tidak menyebut semua temuan itu dengan planet. Sebagai pengganti, dia menyebut Pluto dan objek-objek kecil di seberang Neptunus sebagai “planet-planet Sabuk Kuiper”.

“Menyebut mereka planet tidak adil, dan mempermainkan kebesaran sistem surya. Temuan ini akan menyulut kembali debat tentang apa (itu planet) dan apa yang bukan planet,” Boss menambahkan.

Alan Stern dari Institut Riset Southwest dan Ketua NASA’s New Horizons –misi ke Pluto pada 2006– malah sejak awal 1990-an memprediksi adanya sekitar 1.000 objek sebesar Pluto di luar tata surya. Lewat pemodelan komputer, Stern yakin, ada benda sebesar Mars bersembunyi jauh di sudut sistem surya kita. Bahkan, menurut dia, kemungkinan benda sebesar Bumi pun ada di sana. Stern tidak terlibat dalam penemuan itu. Tapi ini memperkuat teorinya. “Temuan ini sangat memuaskan saya,” ujarnya.

Rohmat Haryadi

Ikat Pinggang Tata Surya

PADA 1951, Gerard Peter Kuiper (1905-1973), astronom Belanda-Amerika, mengusulkan hipotesis bahwa hujan komet berasal dari pecahan-pecahan benda langit di seberang Neptunus. Mereka mengorbit Matahari setiap 20 tahun.

Hipotesis Kuiper diperkuat simulasi komputer 1980-an, yang memprediksi cakram tata surya memiliki puing-puing reruntuhan semesta pada tepiannya. Skenarionya, planet-planet menggumpal dengan cepat di seputar Matahari, menyisakan puing-puing cikal bakal semesta di tepian tata surya.

Sabuk Kuiper hanyalah teori, hingga pada 1992 terdeteksi objek berukuran 150 mil, yang disebut 1992 QB1, pada jarak yang dicurigai sebagai ikat pinggang tata surya. Sejak itulah, astronom menghargai populasi mahaluas dari objek-objek kecil yang mengorbit Matahari di seberang Neptunus. Kurang lebih ada 70.000 objek “trans-Neptunians” dengan diameter 100-an kilometer atau lebih.

Untaian gelang es batu itu kemudian dikenal sebagai Sabuk Kuiper (Kuiper Belt). Nama itu untuk menghargai sang pengungkap teori: Gerard Peter Kuiper.

Rohmat Haryadi

Catatan: Planet-planet kecil itu akhirnya menjadi planet minor berdasarkan keputusan sidang IAU, Agustus 2006. Pluto juga masuk golongan planet minor, sehingga planet di Tata Surya menjadi 8 saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: