Kehidupan Berasal dari Langit


Makin banyak bukti bahwa kehidupan berasal dari angkasa luar. National History Museum (Museum Sejarah Nasional) London, Inggris, 20 Juni 2008, membeli sebongkah meteorit langka berusia setua tata surya. Meteorit itu menjadi petunjuk untuk mempelajari sejarah tata surya, karena material yang dibawanya mungkin sama dengan material yang terbentuk sekitar 4,5 milyar tahun silam. Bongkahan meteorit bernama Ivuna itu dibeli dari kolektor berkebangsaan Amerika.

Sampel yang dibeli museum itu merupakan potongan terbesar dari meteorit seberat 705 gram yang jatuh di Tanzania pada 1938. “Meteorit jenis ini sangat rentan terhadap pengaruh perubahan di bumi. Perubahan kelembapan, misalnya, dapat menyebabkan perubahan komposisi,” ujar Caroline Smith, kurator meteorit dari Museum Sejarah Nasional London. Smith menyatakan, sampel yang dibeli itu masih sangat murni karena disimpan dalam kotak pendingin sejak ditemukan.

Meteorit Ivuna berjenis carbonaceous condrite yang langka. Saking langkanya, ia hanya ada sembilan dari sekitar 35.000 meteorit yang ditemukan atau 0,03%. Yang terpenting, meteorit Ivuna mengandung material organik. Penelitian pada 2001 menunjukkan, dalam meteorit itu terdapat asam amino b-alanine dan glycine, yang merupakan komponen pembentuk material genetika makhluk hidup.

Bukti lain bahwa kehidupan turun dari langit dibeberkan berdasarkan sampel meteorit yang jatuh di Australia. Selain setua tata surya, meteorit Murchison itu juga mengandung dua unsur organik penting untuk membentuk DNA. Jenis molekul organik yang ditemukan dalam meteorit Murchison, yang jatuh pada 1969, itu adalah uracil dan xanthine. Keduanya termasuk dalam kelompok material yang disebut nucleobase, bahan utama penyusun rantai DNA. Uracil dan xanthine pun menjadi penyusun RNA, bahan baku protein pada tubuh organisme.

Dua temuan itu menguatkan teori yang diperkenalkan astronom Carl Sagan dan koleganya pada 1992. Disebutkan bahwa beberapa bahan penting penyusun kehidupan dibawa komet dan asteroid. Mereka menggendongnya sepanjang perjalanan di ruang angkasa. Karena itu, bukan hal mustahil bahwa bibit DNA juga dikirim ke planet-planet lain selain bumi.

Rohmat Haryadi

1 Komentar

  1. jemmy said,

    8 April 2016 pada 10:40

    Tonton Carl Sagan di Canel National Geografic lebih lengkapnya …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: