Tiga Surya di Rasi Angsa


Temuan planet dengan tiga matahari mendobrak teori mapan tentang kelahiran planet. Bagaimana menemukan planet di bintang jauh yang begitu dekat ke matahari?

MATAHARI gede berwarna oranye nongol di ufuk cakrawala. Lalu di belakangnya muncul dua matahari lain, satu besar dan kecil. Yang besar berwarna oranye, dan si kerdil memamerkan kilau merahnya. Begitulah kira-kira suasana pagi di sebuah planet dengan sistem tiga bintang. Itu bukan pemandangan di Tatooine, planet gurun pasir tempat tinggal Skywalker dalam Star Wars. Tatooine dalam film fiksi ilmiah itu diceritakan hanya punya dua matahari.

Bumi, tempat kita berdiri saat ini, berada dalam tata surya dengan satu matahari atau sistem bintang tunggal. Sistem tata surya dengan bintang banyak bertebar tak berhingga jumlahnya di alam semesta. Sistem bintang tunggal mungkin hanya 20%. Bintang tetangga terdekat matahari kita, Alpha Centauri, adalah anggota trio.

Masalahnya, apakah pada sistem multibintang itu ada planetnya? Karena sulit dibayangkan sebuah planet bisa terbentuk dalam sistem dengan gaya gravitasi kompleks seperti itu. Jawabnya, bisa. Planet sistem tiga bintang itu pertama kali dilihat Maciej Konacki (baca: MATCH-i Konn-ATZ-ki), dengan teleskop Keck I berdiameter 10 meter, di Gunung Maua Kea, Hawaii. Temuan peneliti langit berusia 33 tahun dari Institut Teknologi California (Caltech) itu dilansir dalam jurnal Nature, edisi pertengahan Juli ini.

Planet itu terletak di bintang HD 188753 yang berada pada rasi Angsa (Cygnus). Jangan anggap itu hanya sebuah planet di seberang ufuk. HD 188753 terletak 149 tahun cahaya dari bumi. Satu tahun cahaya itu waktu yang ditempuh sinar selama setahun, atau kurang lebih 10 trilyun kilometer.

HD 188753 terdiri dari satu bintang utama, dengan dua bintang lain yang mengitarinya. Bintang utama berwarna oranye, mirip matahari kita. Beratnya 1,06 kali massa sang surya. Sedangkan dua bintang lainnya saling berpasangan. Yang gede berwarna oranye, dan si mungil berwajah merah. Gabungan berat keduanya 1,63 kali massa matahari.

Mereka berdekatan. Karena begitu dekat, diperkirakan tidak ada planet yang eksis pada kedua bintang itu. Dua bintang itu terpisah dari bintang utama sejauh matahari dengan Saturnus. Atau sekitar 1,4 milyar kilometer atau 9,5. satuan astronomi (SA). SA adalah jarak bumi-matahari atau sekitar 150 juta kilometer.

Di samping dua bintang itulah, Konacki menemukan sebuah benda langit yang ikut berputar. Planet itu berupa gas raksasa yang sedikit lebih besar dari Yupiter. Yupiter adalah planet terbesar di tata surya kita, ukurannya 1.321 kali bumi. Konacki menjuluki planet itu “Tatooine”, sama seperti Goerge Lucas memberi nama untuk tempat tinggal Skywalker.

“Pemandangan langit dari planet itu pasti sangat spektakuler. Dengan tiga matahari di angkasa,” katanya, seperti dikutip Space.com. Tatooine-nya Konacki ini mengitari bintang induk sekali putaran 3,3 hari. Jadi, setahun di planet itu sama dengan 3,3 hari di bumi. Itu menunjukkan jaraknya teramat dekat dengan bintang induk, “hanya” 8 juta kilometer. Sehingga suhu di permukaan planet sangat terik, sekitar 1.000 derajat celsius. Dan matahari di angkasa terlihat amat besar.

Hal lain, tak seperti dalam Star Wars, Tatooine Konacki ini berbentuk planet gas bersuhu panas, dan biasa juga disebut “hot Jupiter”. Bagaimana planet itu bisa terbentuk, masih menjadi misteri. Karena bertentangan dengan teori umum terbentuknya sebuah planet.

Planet gas lazimnya berada di daerah dingin atau jauh dari bintang induk. Awalnya planet adalah cakram material gas debu di sekitar bintang muda. Hawa dingin di daerah yang jauh dari matahari memungkinkan terjadinya inti beku.

Inti beku itu terus berputar. Gravitasinya menarik gas debu dengan perlahan, sehingga akan menggumpal menjadi sebuah planet. Planet yang dilahirkan adalah planet gas yang kini terlihat pada planet-planet raksasa yang jauh dari matahari. Sedangkan planet yang dekat bintang induk umumnya memadat, menjadi planet darat.

Di alam, terdapat sekitar 161 kandidat planet berbentuk hot Jupiter. Mereka mirip sistem planet raksasa di sistem matahari, namun jaraknya sangat dekat dengan bintang induk. Secara teoretis, planet itu harusnya berada di daerah dingin yang jauh dari bintang induk. “Setelah jarak 3 SA, baru suhu dinginnya cukup untuk membentuk es, dan inti padat lainnya untuk membentuk sebuah inti (planet),” Konacki menjelaskan.

Tapi anomali terjadi di HD 188753. Sistem kerja yang lazim pada kebanyakan sistem bintang sulit menjelaskan temuan baru itu. “Mungkin sepasang bintang padat itu yang mengganggu sistem,” katanya. Kedua bintang kecil itu mengorbit bintang utama pada jarak terdekat 6 SA, dan terjauh 18 SA. Mereka butuh 25,7 tahun untuk menyelesaikan satu putaran.

Konacki menduga, gravitasi kedua bintang menarik cakram debu calon planet hingga memadati daerah 1,3 SA. Pada jarak itulah planet-planet terbentuk. “Bagaimana planet dibentuk melalui proses yang rumit dan sangat membingungkan. Saya percaya, masih banyak yang perlu dipelajari tentang bagaimana planet gas raksasa dibentuk,” ujar Konacki.

Temuan Konacki disambut baik oleh mentornya di Caltech, Dr. Shri Kulkarni. “Ini berita bagus buat planet,” kata Kulkarni, seperti dikutip http://www.nasa.gov. “Planet bisa hidup di lingkungan yang sampai sekarang belum terjamah para ilmuwan,” ujarnya. Kulkarni adalah ilmuwan lintas disiplin ilmu yang duduk dalam proyek masa depan NASA Misi SIM PlanetQuest. Misi untuk mencari keberadaan planet yang mirip bumi di alam raya ini.

Temuan planet Konacki di daerah langka itu memang layak mendapat acungan jempol. “Sistem multibintang bukanlah tempat populer bagi pada pemburu planet di bumi,” kata Kulkarni. “Mereka sangat sukar diamati, dan kami percaya bukan planet yang ramah,” katanya. Konacki memperbaiki tata cara menemukan planet tersebut.

Untuk mengetahui adanya planet pada sebuah bintang tunggal, astronom tinggal mengamati goyangan bintang akibat gravitasi. Gerak radial planet di seputar bintang menyebabkan bintang induk bergoyang. Goyangan itu menimbulkan efek Doppler. Jika bintang bergoyang mendekati pengamat, maka cahaya yang diterima akan menguat. Bila menjauh, cahaya itu melemah.

Ada cara lain untuk mendeteksi keberadaan sebuah planet di bintang jauh. Astrometri adalah salah satu cara untuk menemukan planet. Caranya, mengamati efek goyangan bintang yang menyebabkan perjalanan bintang di bola langit berkelok-kelok. Dengan mengamati kelokan lintasan bintang itu, pengamat bisa mengetahui ada tidaknya planet di bintang itu.

Kemudian metode transit. Ketika sebuah planet melintas di depan sebuah bintang, akan membuat bintang induk sedikit redup. Perubahan keredupan itu akan berlangsung secara periodik. Dengan mengamati perubahan cahaya bintang, akan dideteksi adanya planet di bintang itu.

Juga metode microlensing. Jika cahaya melewati sebuah benda padat, gravitasi benda itu akan membelokannya. Akibatnya, terjadi penguatan cahaya bintang yang berada di belakang bintang pemilik planet itu. Penguatan cahaya bintang latar ini disebut efek lensing. Jika planet-planet yang digendong berukuran raksasa, efek lensing itu berlangsung dalam orde waktu harian.

Namun semua metode itu berguna untuk memburu planet di sistem bintang tunggal. Sedangkan untuk bintang ganda, sistem tiga bintang sulit diterapkan. “Sistem multibintang tidak populer sebagai daerah perburuan planet (luar surya),” kata Konacki.

Karena dalam sistem bintang berkawan, cahayanya bersaing dengan bintang induk. Konacki membangun metode untuk mengamati goyangan planet dari “tumpukan” cahaya yang kacau itu, dengan membikin kombinasi spektrum cahaya. Dengan metode ini, dia pertama kali menemukan planet dalam sistem tiga matahari dari 20 bintang yang tengah diamatinya. Dia berencana meneliti sekitar 450 bintang.

Konacki membayangkan adanya planet seperti bumi dengan tiga matahari pada konstelasi yang unik. “Jika planet mirip Yupiter muncul dalam konstelasi, planet mirip bumi dapat muncul juga,” katanya.

Tetapi belum ada teknologi yang bisa membuktikan hal itu. Planet segede bumi terlalu kecil untuk dideteksi pada jarak yang sekian jauh. Goyangan yang ditimbulkan planet seperti bumi tidak teramati. Hanya planet raksasa sebesar Yupiter atau lebih yang mampu menggoyang sebuah bintang.

Rohmat Haryadi

1 Komentar

  1. gandhi said,

    27 April 2010 pada 10:40

    mas kalau matahari di GATRA ada berapa? heheheh…mantap mas, terus berkarya….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: