Lorong Cepat Antarplanet


Martin Lo membuktikan adanya lorong antarplanet. Cara murah dan mudah menembus kedalaman langit. Cikal bakal jalan layang antarbintang.

TATA surya ternyata menyediakan terowongan khusus yang bisa digunakan sebagai jalur cepat antarplanet. Pesawat antariksa yang memasuki lorong ini bisa bergerak lebih cepat karena bebas dari tarikan gravitasi. Tak ada gravitasi bumi, matahari, bulan, atau planet lain.

  

Ihwal “jalur tol” antariksa ini dilansir majalah Space Daily, edisi 17 Juli 2002. Peta lorongnya disusun Martin Lo, ahli dari Laboratorium Jet NASA, lembaga antariksa Amerika Serikat yang bermarkas di Pasadena, California. Ia ingin memanfaatkan jalur itu untuk misi Genesis, wahana antariksa yang bertugas mengumpulkan dan membawa pulang partikel angin matahari, materi yang seukuran debu. Partikel debu ini dipercaya bisa mengungkap kejadian alam dari masa 4,3 juta tahun silam.

Genesis merupakan pesawat antariksa pertama yang direncanakan menempuh jalur tol antarplanet ini. Wahana itu diberangkatkan 8 Agustus 2001, dan kini sedang mengorbit di seputar titik pertama nilai Lagrange (L1), yang bergaris tengah sejuta kilometer. L1 merupakan satu di antara gerbang terowongan. Titik-titik itu disebut Lagrange, mengambil nama ahli matematika Prancis yang pertama kali menghitung adanya ruang “kosong” yang tidak terpengaruh gravitasi.

L1 berada di antara bumi dan matahari, 1,5 juta kilometer dari bumi. Orbit L1 ini jauh di luar orbit bulan, yang jaraknya dari bumi hanya 208.488 kilometer. Daerah ini merupakan titik kesetimbangan antara gravitasi bumi dan gaya tarik matahari. Karena sama kuatnya, tarikan berlawanan itu saling meniadakan. “Gerbang dan terowongan temuan saya itu merupakan anugerah Tuhan,” kata Martin Lo.

Genesis dirancang untuk memanfaatkan keuntungan tarik-tarikan gravitasi di ruang angkasa yang saling meniadakan. Karena planet-planet bergerak pada orbitnya, celah kosong itu pun membentuk lorong panjang. Teori Lo menggabungkan beberapa faktor, yaitu celah kosong gaya tarik matahari terhadap planet, celah kosong akibat planet menarik bulan, dan seterusnya. Gaya-gaya yang bekerja di ruang kosong ini mendorong ke arah luar, membentuk jalan kecil melewati medan gravitasi yang dapat dimanfaatkan sebagai jalan di ruang angkasa.

Ada lima gerbang tol yang bisa dimanfaatkan untuk pelesir ke angkasa luar. Dari kelima titik, hanya L1 dan L2 yang mudah dijangkau karena jaraknya hanya 1,5 juta kilometer. Jarak L4 dan L5 sama dengan jarak bumi-matahari yang 150 juta kilometer. Sedangkan L3 berada di belakang matahari, sama jauh dengan bumi, atau 300 juta kilometer. Dari lima titik itu, hanya L4 dan L5 yang stabil. Lainnya goyah karena dipengaruhi gerak bumi mengorbit matahari.

Gerbang L2 dari bumi punya jarak yang sama dengan L1. Di antara gerbang tol L1 dan L2 terdapat jalan langit yang menghubungkan keduanya. Lo memetakan kemungkinan terbang menelusuri jalan itu. Dia menggunakan berbagai variasi jarak, yang dikombinasikan dengan kecepatan terbang. Sebab, posisi jalan tol ini senantiasa berubah akibat gerakan benda langit. Untuk mengatur semua itu, digunakanlah setir otomatis dengan sistem komputerisasi.

Lo berhasil mendesain trayek yang mesti ditempuh Genesis saat pulang pada 2004. “Setelah Genesis mengorbit L1, dia akan kembali ke titik itu. Dia tidak membutuhkan banyak bahan bakar untuk melintasi terowongan itu,” katanya. Sebab, dengan kosongnya gravitasi, dia bisa melaju dengan enteng.

Penerbangan lewat jalur sempit ini didesain untuk balik ke bumi, setelah perjalanan ke orbit Lagrange. Sesudah mengorbit lima kali, wahana langit itu akan keluar lintasan, dan melakukan beberapa manuver. Selanjutnya melintasi orbit bumi menuju nilai Lagrange di L2 yang berlawanan dengan L1. “Percaya atau tidak, untuk perjalanan sejauh itu, Genesis hanya menggunakan satu roket pendorong!” katanya.

Tim NASA dari Johnson Space Center, Houston, yang bekerja untuk Tim Eksplorasi NASA, mengusulkan agar jalan tol antarplanet ini digunakan untuk misi angkasa luar di masa depan. “Lo telah membangun konsep yang mengagumkan untuk misi angkasa luar, baik dengan menggunakan robot maupun manusia,” kata Doug Cooke, Manajer Kantor Pembangunan Berkelanjutan, Johnson Space.

Setelah sukses dengan Genesis, kini Martin Lo berancang-ancang mendesain jalan tol untuk mengirim astronot ke Mars dalam misi “Terrestrial Planet Finder”. Dia merancang untuk menggunakan satu di antara gerbang jalan tol di tengah orbit halo untuk mengirim astronot ke Mars. “Mengirim astronot ke orbit L1 sama sulitnya dengan mengirim mereka ke Mars,” kata Lo. Sebab, selama perjalanan tiga bulan menuju ke sana, astronot akan mendapat hajaran radiasi kosmis yang jauh dari ramah.

Untuk mengantisipasi itu, Lo punya gagasan untuk menempatkan astronot pada sebuah stasiun transit di orbit bulan. Jika dimulai dari sini, pesawat hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk pergi orbit halo, kemudian menyusup pintu gerbang L1, dan meluncur ke Mars. “Ini cara paling mudah, cepat, murah, dan aman,” katanya.

“Kami dapat membawa mereka ke jalan tol antarplanet menuju tetangga bumi,” ujarnya. Dengan cara ini, pesawat hanya membutuhkan sedikit energi untuk mendorong pesawat ke Mars. Untuk menjalankan kerja besar ini, Martin Lo setiap hari bangun pukul delapan pagi, dan langsung bergelut dangan hitungan matematika yang rumit.

Penuturan Martin Lo ini seperti cerita khayal. “Memang seperti fiksi ilmiah, namun semua ini benar-benar nyata,” katanya. Dia yakin, terowongan dengan pintu gerbang di L1 dan L2 berhubungan dengan planet-planet lain dalam sistem matahari kita.

“Jika memasuki lubang di orbit halo, kamu akan melaju cepat seperti di jalan tol,” katanya. Jalan ini berhubungan satu sama lain dalam sistem matahari, bahkan sampai sabuk Kuiper, sabuk asteroid yang melingkar di lingkaran paling luar tata surya kita, setelah planet Pluto.

Sebelum ini, orang sering mendengar istilah “lubang cacing”, jalan pintas untuk pergi ke galaksi lain. Yang dimaksud dengan lubang cacing, jika kita ingin bepergian ke Amerika Serikat, harus melintasi permukaan bumi yang melengkung sehingga jaraknya menjadi jauh. Sebenarnya, ada jarak pintas dengan membuat lubang yang menembus kerak bumi sehingga sampai ke sana. Jarak ini menjadi lebih pendek. Dongeng ilmiah semacam ini biasanya dipakai dalam film-film tentang angkasa luar, terutama untuk menerangkan petualangan ke galaksi lain.

“Mungkin Anda menghubungkan gerbang dan terowongan antarplanet ini dengan lubang cacing, namun keduanya tidak berkait,” katanya. Sebab, gerbang ini benar-benar disediakan alam, dan sesuai dengan hukum gravitasi Newton. “Bahkan komet dan asteroid lebih dulu menggunakan jalan ini, jutaan tahun silam,” ia menambahkan.

Yang lebih penting, menurut Lo, dengan temuan ini, manusia bisa memulai misi pengembaraan membelah langit secara mudah. “Di lain pihak, lubang cacing benar-benar fiksi ilmiah berbasis relativitas umum Einstein,” katanya. Dia menegaskan, sekali waktu, kenyataan memang bisa berlawanan dengan fiksi ilmiah.

Secara teoretis, jika ada nilai Lagrange antarplanet, juga planet dengan bintang, maka antarbintang pun punya terowongan serupa. Jika lorong antarbintang ini bisa dipetakan, perjalanan antarbintang akan menjadi mudah. Manusia telah berhasil mengirim wahana antarbintang, seperti Pioneer 10, Voyager 1, dan Voyager 2. Namun, pesawat-pesawat ini menggunakan jalur klasik dengan mengandalkan energi listrik untuk mendorong perjalanannya.

Wahana kuno itu menggunakan sel surya untuk membangkitkan listrik rumah tangganya. Akibatnya, ketika sudah melewati Pluto, dan menyeberang sabuk Kuiper, dia kehilangan sumber listriknya. Selanjutnya, dia menggunakan peluruhan plutonium sebesar telur ayam di tungku nuklirnya untuk membangkitkan tenaga listrik.

Karena dia menggunakan jalur konvensional dengan melawan gravitasi benda langit, wahana ini terseok-seok dalam perjalannya. Untuk mencapai Proxima Centauri, bintang terdekat dengan kita, yang berjarak 41 trilyun kilometer, dia butuh waktu 70.000 tahun. Dikhawatirkan, ketika dia berhasil mencapai Proxima Centauri, bumi telah kiamat.

Dengan menggunakan terowongan antarbintang, misi ke sana diharapkan bisa lebih cepat. Sebagaimana pernah dimimpikan Johannes Kepler tentang petualangan manusia bumi di angkasa luar menggunakan perahu layar yang memanfaatkan angin matahari. Kemarin mimpi, hari ini harapan, esok adalah kenyataan.

Rohmat Haryadi

1 Komentar

  1. benny said,

    2 Agustus 2010 pada 10:40

    keren


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: