Gang Buntu Jagat Raya


Stephen Hawking merombak teori lubang hitam yang masyhur. Tak lagi mencederai fisika kuantum. Hawking kalah taruhan dari ilmuwan Amerika.

TAK kurang dari 800 pasang mata fisikawan dari 50 negeri yang berkumpul di Dublin, Irlandia, mencerna dengan cermat kata demi kata yang diucapkannya. Seluruh peserta Konferensi Internasional tentang Gravitasi dan Relativitas Umum ke-17 itu seperti tersedot oleh pria 62 tahun yang hampir seluruh hidupnya bergantung pada kursi roda itu.

Dialah Profesor Stephen William Hawking, sang legenda hidup, pencipta teori lubang hitam alias black hole. Sepekan sebelum konferensi berlangsung, Hawking memang sudah memberi pemanasan. Ia mengaku adanya kesalahan atas teori lubang hitam yang dia ungkapkan 30 tahun lalu itu.

Nah, baru pada Rabu 21 Juli itulah, para ilmuwan berkesempatan mendengar langsung revisi Hawking. Ilmuwan yang masyhur lewat buku A Brief History of Time (terjual 10 juta kopi) itu mengaku berjuang hampir tiga dekade untuk menjelaskan paradoks mendasar dunia sains itu. “Saya memikirkan problem ini 30 tahun. Sekarang saya punya jawabannya,” kata Hawking. Ucapan itu makin membuat banyak ilmuwan penasaran.

Black hole adalah produk dari sebuah bintang yang mati. Benda angkasa mahabesar itu ketika mati dipercaya akan mengerut, semua rongga antar-atom musnah, membuatnya menjadi sari pati atom. Ini membuat almarhum bintang itu menjadi benda teramat padat, sehingga sesendok “tanah” bisa berbobot ribuan ton.

Hal tersebut menciptakan medan gravitasi yang teramat kuat. Benda apa pun yang ada di sekitar black hole akan tersedot, mulai planet, meteor, rumah dan seisinya, bintang film, bahkan cahaya pun tak mampu menahan betotan gravitasi superkuat itu. Hal inilah yang membuatnya dijuluki sebagai lubang hitam.

Antara lain, karena black hole pula, Hawking menjadi amat terkenal sebagai penulis buku sains fiksi. Ia tampaknya punya kemampuan lebih dalam menyuplai kaum awam dengan gambaran masa-masa awal terciptanya semesta serta umur langit.

Pada pertengahan 1970-an, Hawking, profesor matematika di Universitas Cambridge, London, menyatakan bahwa informasi yang diserap lubang hitam tak mungkin melompat lagi keluar. Ia lenyap ditelan lubang hitam itu, dan musnah tak berbekas bersama kematian sang bintang.

Tapi, bagaimana mungkin? Ini bertentangan dengan syarat kedapat-balikan energi pada teori kuantum: ujung dari proses apa pun bisa dilacak balik ke kondisi saat dia diciptakan. Dengan kata lain, apa pun yang masuk harus bisa kembali dalam bentuk semula. Pertentangan teori lubang hitam Hawking dengan teori kuantum ini tak bisa dijawab oleh ilmuwan mana pun, termasuk Hawking sendiri. Inilah yang disebut sebagai paradoks terbesar dalam ilmu fisika.

Salah satu jawaban yang dikemukakan Hawking adalah: informasi yang masuk ke lubang itu bisa jadi disalurkan lewat kanal ke dalam sebuah semesta paralel (atau baby universe) setelah lubang hitam itu mati. Menurut Hawking, lubang hitam berfungsi sebagai pintu terowongan yang menghubungkan antar-semesta.

Hawking pernah meyakini bahwa cikal bakal semesta tidak hanya satu, sehingga semesta pun tidak tunggal. Di samping semesta kita, ada semesta-semesta lain. Antar-semesta itu dihubungkan terowongan, sehingga semesta versi Hawking itu mirip sarang tawon yang tak terbatas. Gerbang penghubung semesta itu adalah lubang hitam.

Spekulasi pun bermunculan dan membuat diskusi lubang hitam dinikmati para pencinta fiksi ilmiah. Misalnya, lubang hitam dianggap sebagai gerbang lubang cacing (worm hole). Yaitu lorong terdekat untuk mencapai bagian semesta lain.

Sebagai gambaran, jika berjalan dari Jakarta ke Washington, kita harus menempuh permukaan lengkung bumi yang jauh. Nah, kita bisa menempuh jalan terpendek dengan lintasan lurus menembus tanah. Jalan lurus itu disebut lubang cacing.

Di Dublin, pekan lalu Hawking membuat revisi lewat makalah berjudul “The Information Paradox for Black Holes”. Menggunakan matematika kelas atas, dan bahasa fisika teoretis, ia menjawab paradoks tersebut. Menurut dia, lubang hitam tidak pernah bisa menahan sesuatu secara mutlak, sehingga apa pun yang tersedot tak bisa keluar sama sekali.

Ketika lubang itu mati, informasi itu akan dimuntahkan kembali ke alam semesta kita, bukan ke alam paralel atau bayi semesta (yang dikhayalkan Hawking dan para pencinta fiksi ilmiah). “Tidak ada cabang semesta seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Materi, energi, maupun informasi yang diisap black hole tetap berada di semesta kita,” katanya.

Jadi, lubang hitam tidak lebih dari “kantong gelap” atau sebuah gang buntu yang tidak menghubungkan apa pun. “Saya minta maaf telah mengecewakan penggemar fiksi ilmiah. Tetapi, jika informasi masih tersimpan, dia mustahil untuk menggunakan black hole sebagai jalan menuju semesta lain,” ia menjelaskan.

Menurut Hawking, lubang hitam menyimpan materi yang ditelannya dalam waktu sangat lama. Sehingga informasi yang ditampungnya rusak. Dan saat lubang itu memuntahkan isi “perutnya”, dia kembalikan ke semesta kita, dalam bentuk yang telah tercerai-berai.

“Jika kamu melompat ke black hole, massa dan energi kamu akan dikembalikan ke jagat raya kita, namun dalam bentuk yang terurai. Yang mana masih mengandung informasi seperti apa kamu dulu, tetapi dalam bentuk yang tidak bisa dikenali lagi,” ujar Hawking, disambut tawa hadirin.

Stephen Hawking terlahir sebagai pria yang tidak terlalu suka atletik maupun berbagai kegiatan olahraga lain. Dari kecil, dia lebih tertarik pada permainan otak. Malah, sejak usia 18, ia menderika amyotrophic lateral sclerosis yang membuatnya lumpuh. Dia hidup, duduk, berdiri, berjalan, menggerakkan tangan, bahkan berbicara di kursi roda.

Dia berkomunikasi lewat peranti genggam, dengan cara memilih kata di layar komputer yang terpatri di kursi rodanya. Kata-kata itu lalu terucapkan lewat peranti suara. Namun, dia beruntung karena otaknya tetap encer.

Meski teori baru Hawking berhasil membuka paradoks dan lubang hitam tak lagi bertentangan dengan teori kuantum, tak urung hal itu menimbulkan gelombang skeptis dan teka-teki beberapa profesor fisika terkemuka. Antara lain: William Unruh dari Universitas British Columbia dan Robert Wald dari Universitas Chicago.

Mereka mengangkat bahu dan menggeleng-gelengkan kepala saat menyimak perkataan Hawking. “Hawking mestinya melengkapi revisinya lebih dulu, sebelum percaya bahwa pergi ke black hole dapat kembali keluar,” kata Wald, yang juga ahli lubang hitam.

Unruh mengatakan, “Bagian dari masalah adalah dia hanya menyampaikan sedikit detail, sehingga tidak mungkin kita dapat mempercayai kalkulasinya. Stephen Hawking tidak bodoh, sehingga kita bisa menilai apakah yang dikatakan serius…, tetapi secara keseluruhan teori yang kita dengar sangat spekulatif,” kata Unruh.

Terlepas dari tanggapan dua pakar itu, saat presentasi, Hawking berterus terang bahwa dia kalah taruhan dari ahli fisika partikel Institut Teknologi California (Caltech), John Preskill. Taruhan tersebut sudah berumur 29 tahun. Hawking bersama Kip Thorne, profesor fisika Caltech, bertaruh melawan Preskill.

Hawking dan Thorne berpendapat: informasi yang ditelan black hole disembunyikan selama-lamanya dari luar semesta, dan tidak pernah dibuka kembali. Preskill menentang pendapat itu. Menurut dia, materi yang dikonsumsi oleh lubang hitam tidak akan musnah. Pendapat itu yang kini diakui Hawking.

Sebagai tanda pengakuan kalah itu, Hawking menyerahkan sebuah Ensiklopedi Baseball pada Preskill. Menurut Hawking, ensiklopedi itu dia datangkan khusus dari Amerika Serikat. “Saya sungguh sulit mendapatkan (ensiklopedi) di sekitar sini (Inggris). Jadi, saya tawarkan untuk diganti dengan ensiklopedi kriket, tapi John bilang tak yakin menguasai kriket,” katanya, disambut gelak para ilmuwan.

Preskill mengaku sangat puas telah memenangkan taruhan itu. Tetapi, dia buru-buru menambahkan, “Jujur saja, saya tidak mengerti apa yang dikatakannya.” Untuk itu, dia berjanji akan mempelajari lebih lanjut makalah Hawking secara detail, yang dia harapkan dipublikasikan bulan depan. Jadi, tampaknya cerita lubang hitam belum akan berakhir.

Rohmat Haryadi

3 Komentar

  1. mmkmn said,

    4 Agustus 2014 pada 10:40

    Alam semesta ini reversible, untuk lakukan ekspansi alam
    semesta membentuk black hole dan black energy. Kemudian
    black hole menyerap energy/particle kembali dari bintang-bintang
    planet yang dijangkaunya dan suatu waktu Black Hole kembali menjadi
    bintang besar dan semakin besar, karena tiada lagi dark energy yang
    menghalangi dan saat ini dikatakan alam semesta telah kembali pada
    kondisi sebelum big bang dan akhirnya semua terurai menjadi energy
    sebagai mana awal terjadi alam semesta.

  2. rohmat haryadi said,

    5 Agustus 2014 pada 10:40

    Black hole bukan entitas tunggal. Dia adalah bangkai bintang yang massanya di atas atau sama dengan konstanta Chandrasekhar. Black hole penghuni utama pusat galaksi. Apakah black hole akan saling menyedot membentuk entitas tunggal? Melihat jarak antar bintang yang sangat-sangat jauh, kok rasanya arah menuju ke sana hampir mustahil.

  3. jemmy said,

    8 April 2016 pada 10:40

    Kalau menurut saya “Alam Semesta” tercipta berkali – kali. Saat ini Black Hole akan terus menelan materi, gelombang bahkan cahaya. Saya ingat salah satu teori bahwa Black Hole kecil dapat bergabung dengan Black Hole lain, terciptalah Black Hole yang lebih besar.
    Saya rasa akhir dari “Alam Semesta” ini adalah semua materinya masuk kedalam 1 Super Black Hole. Danj pada akhirnya Super Black Hole Tunggal itu akan “Muntah” kembali seperti yang dikatakan Hawking yang dikenal sebagai Big Bang. Tentu saja yang di muntahkan kembali adalah materi yang sama sekali baru.

    Saya juga tidak setuju dengan teori adanya “Lubang Cacing” di Ruang Angkasa. Karena bentuk alam semesta ini bukan seperti “BOLA” yang kosong di tenggah, tetapi “BOLA” yang terisi galaksi keseluruh arah. Jadi yang namanya “Lubang Cacing” ya benar – benar imajinasi Fiksi Ilmiah saja.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: