Diganjal Panah Malaikat


 

Walaupun ia mampu melihat selembar rambut dari jarak ratusan kilometer, atmosfer bumi telah menghalangi pandangannya, dan mengaburkan kebenaran. Menghadapi kendala ini, manusia penyambung mata ini ke langit, yang bebas gangguan cuaca.

Panah Malaikat

SECANGGIH apa pun pembangunan teleskop optik di permukaan bumi, ia tak pernah memuaskan para ilmuwan. Kelemahan mendasarnya, ia sangat bergantung pada cuaca. Teleskop cermin “Raksasa Parsonstown”, misalnya, sering dihajar cuaca buas Irlandia

Gagasan itu pertama kali dikemukakan Lyman Spitzer (1914-1997), astronom Amerika, pada 1946. Ketika “menjual” gagasan ini, dia menjadi tertawaan. Idenya dianggap fiksi ilmiah belaka. “Hampir semua kawan saya skeptis,” katanya suatu ketika. Bahkan ada yang berujar, sampai mati pun dia tidak akan melihat ide itu terwujud. Ternyata, cemoohan itu salah. Sebelum meninggal pada usia 82 tahun, 31 Maret 1997, dia telah berkali-kali menyaksikan teleskop meluncur ke atap dunia.

Satelit Vela teleskop tanpa cermin pertama kali “memanjat” langit pada Mei 1969, di bawah koordinasi Departemen Pertahanan Amerika. Ia berhasil mendeteksi ledakan sinar gamma dan sinar-X. Menyusul NASA, yang menanamkan satelit sinar-X, Uhuru, pada orbitnya, Desember 1970. Satelit yang aktif hingga Maret 1973 itu berhasil mendeteksi 400 radiasi kosmik sinar-X yang dipancarkan bintang neutron, bintang sekarat yang bakal meledak menjadi lubang hitam. Juga radiasi sinar-X lubang hitam (black hole), sebuah bintang beku yang sesendok “tanah”-nya berbobot ribuan ton, sehingga gravitasinya superkuat. Cahaya yang terjebak ke dalamnya tak mampu meloloskan diri.

Sejak itu, banyak negara berlomba-lomba menempatkan satelitnya. Pada Agustus 1974, Belanda meluncurkan Satelit Astronomi Netherlands. Kemudian disusul Inggris, yang menanam Ariel V, Oktober 1974. NASA berturut-turut menempatkan Satelit Astronomi Kecil 3 (SAS-3), Mei 1975, dan Observasi Astronomi Energi Tinggi-1 (HEAO-1), Agustus 1977. Memasuki akhir 1970-an, model teleskop tanpa cermin ini mulai ditinggalkan. NASA meluncurkan teleskop Observasi Sinar-X Einstein, November 1978.

Einstein merupakan teleskop pertama yang dilengkapi empat cermin seluas 350 cm persegi. Dia berhasil mendeteksi gas panas galaksi, gerombolan galaksi, dan lain-lain. Peluncuran Einstein juga membawa oleh-oleh studi tentang materi gelap yang diperkirakan memenuhi semesta. Materi ini tidak tampak, namun dirasakan kehadirannya. Sebab, bila materi kasatmata dikumpulkan, beratnya tidak sama dengan bahan penyusun alam semesta itu sendiri. Maka, muncul gagasan tentang materi gelap itu.

Badan Antariksa Eropa (ESA) menyusul keberhasilan NASA dengan mengirim Exosat, Mei 1983. Exosat dilengkapi dua cermin dengan luas penampang 80 cm persegi. Dia berhasil mendeteksi denyut bintang neutron, dan lubang hitam. Keluasan galaksi Bima Sakti dan para tetangganya juga bisa dipantau. Jerman meluncurkan Roentgensatellite, Juni 1990. Menggunakan empat cermin seluas 1.140 cm persegi, wahana itu mengeksplorasi kadar atmosfer di beberapa bintang. Juga radiasi panas yang dipancarkan bintang neutron.

Jepang, sebagai negara maju di Asia, tak mau ketinggalan. “Negeri matahari terbit” ini meluncurkan Advanced Satellite for Cosmology and Astrophysics (ASCA), pada 1993. Tidak tanggung-tanggung, wahana ini dilengkapi 120 cermin seluas 1.300 cm persegi. Alat ini berhasil mengamati aktivitas di pusat Bima Sakti dan gerombolan galaksi lainnya. Dia juga berhasil mendeteksi gravitasi kuat di sekitar lubang hitam.

NASA kembali meluncurkan teleskop tanpa cermin, Rossi X-ray Timing Explorer (RXTE), Desember 1995. Wahana ini bertugas secara khusus mengkaji pancaran sinar-X bintang neutron dan lubang hitam. Juga untuk mengetahui bahan penyusun dari keduanya. RXTE pun berhasil membuktikan tarikan gravitasi superkuat di seputar black hole. Kongsi Italia dan Belanda menyusul jejak NASA dengan mengirim BeppoSAX. Peranti ini bertugas mengamati aktivitas pusat Bima Sakti, dan mengamati sumber ledakan sinar gamma.

Terakhir, NASA menanam teleskop X-Candhra, pada Juli 1999. Hingga kini, wahana ini tetap bertugas mengamati partikel materi dan antimateri yang memenuhi jagat raya. Dia juga mendeteksi bagaimana puing-puing bintang yang meledak mendistribusikan oksigen, besi, silikon, dan neon yang dikandungnya. Dia juga mengirimkan gambar-gambar yahud tingkah penghuni alam semesta, dan menginvestigasi keberadaan materi gelap yang diyakini memenuhi alam ini.

Pengiriman “kacamata” ke angkasa luar itu memang telah menambah luas jangkauan pandang manusia. Namun, tempat di atas langit itu sangat rentan terhadap gempuran meteor. Orang Arab menyebut meteor, atawa bintang beralih yang merobek kegelapan langit malam, dengan “panah malaikat”. Kebanyakan wahana itu tidak berumur panjang –kurang dari 10 tahun– karena hantaman panah malaikat itu. Karena kecepatannya yang tinggi, walaupun besarnya hanya sebutir pasir, panah malaikat ini mampu mengoyak pelat aluminium tipis pelindung teleskop.

Jadi, sangat wajar jika wahana atap langit ini tidak berumur panjang. Yang panjang umur hingga kini hanyalah teleskop Hubble milik NASA, yang diluncurkan pada April 1990. Namun, proyek seharga Rp 20 trilyun itu terlunta-lunta sejak awal. Begitu menjejakkan kaki di orbitnya, dan berlari mengitari bumi 27. 000 kilometer per jam, dia mengalami rabun dekat karena kesalahan meletakkan cermin utamanya. Cermin ini bergeser serambut dibelah 50. Namun, kesalahan “kecil” ini menyebabkan pandangan Hubble kabur dan lumpuh.

Para ilmuwan NASA saat itu sangat kecewa, karena proyek sipil termahal ini digarap selama hampir satu generasi: 20 tahun. Ia melibatkan 10.000 pakar. Pada 2 Desember 1993, hari bersejarah bagi Hubble, NASA mengirim tujuh astronotnya untuk mereparasi wahana berbobot 12,5 ton yang mengambang 565 kilometer dari bumi itu. Walaupun tingkat kesulitannya seperti mengenakan sarung tangan bisbol memperbaiki arloji, misi itu berhasil memasang lensa koreksi seharga US$ 30,5 juta –atau Rp 305 milyar. Mata elang Hubble kembali melek, dan mampu melihat sejauh 14 milyar tahun cahaya (setahun cahaya setara dengan 9.500 milyar kilometer).

Teleskop yang mengambil nama astronom kesohor Amerika, Edwin Hubble (1899-1953), itu kembali diservis pada 17 Februari 1997. Spektograp –alat penyigi kandungan kimia, dan suhu bintang atau planet berdasar spektrum cahaya– diganti. Alat segede kulkas itu harganya US$ 120 juta, sepadan dengan Rp 1,2 trilyun. Spektograp ini membantu Hubble mengkaji kandungan atmosfer planet di rasi Pegasus –150 tahun cahaya dari bumi.

Menurut Hubble, karena terlalu dekat dengan bintang induk, planet seberat 220 kali bumi ini bersuhu 1.100°C. Bersamaan dengan itu, dia juga dilengkapi kamera inframerah senilai Rp 1 trilyun. Untuk melindunginya, digunakan nitrogen beku minus 215°C. Dengan alat ini, diharapkan Hubble mampu melaporkan kejadian di tepian alam semesta. Teropong bintang yang dirancang berusia 15 tahun itu kembali diperbaiki pada 27 Desember 1999, setelah mengalami kerusakan giroskop, alat pengendali jarak jauh, pada 22 April 1999.

Dalam perbaikan itu, Hubble kembali dilengkapi dengan komputer baru. Untuk misi ini, NASA merogoh kocek hingga US$ 8 juta, atau Rp 8 milyar. Terakhir, Hubble diotak-atik astronot, Maret lalu. Dalam proyek seharga Rp 1,7 trilyun itu, mereka memasang panel surya baru, dan sebuah kamera dengan ketajamam 10 kali lipat. Hubble telah mengambang selama 12 tahun di angkasa. Kini, dia mendapat pesaing baru dari teleskop yang diluncurkan kongsi Jepang, Amerika, Eropa, Kanada, dan Australia, pada Februari 1997. Jika Hubble mampu melihat cahaya lilin di Tokyo dari Los Angeles, teleskop baru itu mampu melihat sebutir beras di Los Angeles dari Tokyo!

Rohmat Haryadi

1 Komentar

  1. tagur tagurt said,

    24 Februari 2011 pada 10:40

    malem maen mau ikut


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: