Sembilan Planet Mengorbit Kembaran Matahari


Astronom Inggris menemukan dua planet tambahan di sekitar HD 10180. Menjadikannya bintang dengan jumlah planet terbanyak.

PADA konstelasi bintang Hydrus (Ular Air), bercokol bintang HD 10180. Dia adalah bintang kelas G1 (6% lebih besar daripada Matahari), sedangkan Matahari kelas G2. Tidak hanya mirip sebagai bintang kerdil kuning, namun HD 10180 juga memiliki jumlah planet seperti Matahari. Jadi sistem planet HD 10180 merupakan “kembaran” Tata Surya.

Astronom Mikko Tuomi dari University of Hertfordshire, Inggris, menemukan bahwa sistem planet HD 10180 mungkin memiliki sembilan planet. Hal itu membuat sistem bintang HD 10180 menjadi sistem planet terbesar yang diketahui para astronom. Bahkan lebih besar dari Tata Surya yang hanya memiliki delapan planet, turun dari semula sembilan.

Karena sidang  umum Himpunan Astronom Internasional di Praha, Republik Ceko, Agustus 2006, pada resolusi 6A mengeluarkan Pluto dari daftar planet. Pluto dimasukkan pada golongan planet kerdil. Sembilan planet yang mengorbit bintang kembaran Matahari itu dilansir dalam jurnal Astronomy & Astrophysics, 6 April lalu.

Pada tulisan setebal sebelas halaman itu, Tuomi menggunakan data yang diambil dari Observatorium Eropa di Selatan, di La Silla, Chili. Dimana dilengkapi  spektograf High Accuracy Radial velocity Planet Searcher (HARPS) di teleskop 3,6 meter. HARPS telah mengamati HD 10180 selama bertahun-tahun. Temuan sembilan planet mengorbit HD 10180 merupakan temuan pertama kali, ilmuwan menemukan bintang dengan planet melebihi dayang-dayang Matahari.

Discover Magazine pada 2010, melaporkan pengamatan telah mendeteksi enam sinyal pergeseran Doppler yang menunjukkan enam planet. Gerak radial planet seputar bintang, menyebabkan bintang induk bergoyang karena saling mengorbit sebuah pusat massa. Limbungnya bintang itu karena dia mengorbit pusat massa pada lintasan yang kecil.

Bobot bintang yang besar dibanding planet, maka pusat massanya super dekat dengan bintang. Maka orbit bintang di pusat massa itu hanya nampak sebagai goyangan. Goyangan itulah yang disebut efek Doppler. Jika bintang bergoyang mendekati pengamat, maka cahaya yang diterima akan lebih kuat. Sebaliknya, bila menjauhi pengamat, maka cahaya itu melemah. Namun beda frekwensi cahaya itu cukup kecil, sehingga diperlukan ketelitian yang cermat untuk mengamatinya.

Dari goyangan HD10180 diketahui bahwa lima planet berukuran Neptunus mengitari bintang yang berjarak 127 tahun cahaya dari Bumi itu. Ukuran massanya mulai dari 12 hingga 25 kali Bumi. Planet keenam yang terdeteksi adalah 65 kali massa Bumi, sehingga lebih mirip Saturnus daripada Neptunus yang mengorbit bintang setiap 2200 hari. Dia masuk golongan kelas 1, Sudarsky. (lihat boks 2: Kelas Planet Luar Surya)

Planet ketujuh tidak dapat dipastikan pada saat itu. Analisis data terbaru, menggunakan metode statistik mutakhir mengonfirmasi planet ketujuh itu dalam sistem. Yaitu planet yang mengorbit bintang induk setiap 1,2 hari memiliki massa 1,3 kali Bumi. Tidak berhenti di situ, Tuomi juga menemukan dua planet tambahan, sehingga jumlah planet ke sembilan.

Dua planet tambahan itu diberi notasi i dan j. Keduanya, bukan sistem planet transit. Karena itu tidak mungkin untuk dideteksi atau diverifikasi metode transit. Yaitu ketika sebuah planet melintas di depan sebuah bintang, akan membuat bintang induk sedikit redup. Perubahan keredupan itu akan berlangsung secara periodik. Dengan mengamati perubahan cahaya bintang, maka akan dideteksi adanya planet di bintang itu.

Jika lintasan planet di bawah piringan bintang, tentunya tidak teramati perubahan cahaya bintang induk. Itulah yang terjadi pada dua planet tambahan itu memiliki massa 1,9 dan 5,1 kali dari Bumi. Masing-masing mengorbit bintang padan periode 9,66, dan 67,6 hari. Menurut Discover Magazine, analisis menunjukkan orbit planet-planet itu stabil.

Tuomi menegaskan, bahwa temuannya sangat akurat. Karena HD 10180 merupakan bintang yang sangat tenang. Sehingga tidak mungkin sinyal periodik (akibat orbit planet) dalam data yang dikirimkannya berasal dari fenomena bintang. Kami juga melaporkan periode planet yang mengorbit 9,66 dan 67,6 hari.  Dan itu tidak mungkin timbul dari gerak benda-benda dalam sistem Tata Surya. “Karena itu, bahwa kedua sinyal baru itu menjadi asal planet menjadi penjelasan yang paling kredibel, ” tegasnya.

Dua planet  pertama yang berbobot 1,3 dan 1,9 kali Bumi lazim disebut “Super Bumi.” Mereka berada sangat dekat dengan bintang HD 10180 dibandingkan dengan  jarak Bumi-Matahari yang 150 juta kilometer. Planet pertama berjarak, 3 juta kilometer dari bintang. Planet kedua sekitar 14 juta kilometer.

Hal itu tentu saja membuat keduanya terpanggang, sehingga sangat panas. Bahkan terlalu panas untuk mendukung kehidupan. Dua “Super Bumi” itu pasti tidak ramah, karena zona tempatnya berada merupakan daerah yang membikin gosong bagi manusia atau bentuk kehidupan yang serupa. Namun, banyak juga superbumi yang “ramah” karena berada dalam zona layak huni yang memungkinkan air hadir dalam bentuk cair. (lihat boks 1: Milyaran Super Bumi Menghuni Bima Sakti).

Meskipun demikian temuan Tuomi sangat penting karena kebanyakan sistem planet yang ditemukan sejauh ini memiliki rata-rata empat planet atau kurang. Sebelumnya sistem planet luar Surya terbesar yang diketahui adalah Kepler-11 dan 55 Cancri. Kepler 11 memiliki 6 planet, dan 55 Cancri menggendong lima planet.

Rohmat Haryadi

Boks 1:

Milyaran Super Bumi Menghuni Bima Sakti

Jika Anda mengangankan untuk menghitung berapa banyak planet-planet bisa menopang kehidupan di galaksi kita, Bima Sakti, mungkin akan segera membuangnya jauh-jauh pikiran itu. Namun kini, para ilmuwan menegaskan bahwa ada milyaran planet seperti itu. Para astronom yang bekerja di Observatorium Eropa di Selatan (ESO) dengan instrumen HARPS memperkirakan bahwa Bima Sakti dihuni puluhan miliar planet cadas tidak begitu jauh dari ukuran Bumi.

Planet-planet itu mengorbit bintang kerdil merah dalam zona habitasi bintang-bintang relatif dingin. Sebuah zona layak huni merupakan area di sistem bintang dimana air cair dapat eksis di permukaan planet tanpa mendidih pergi atau membeku. Umumnya mereka memiliki ukuran yang lebih besar dari Bumi sehingga dijuluki Super Bumi. Yaitu memiliki massa hingga 10 kali Bumi.

Ilmuwan menyimpulkan, setiap bintang di Bima Sakti memiliki setidaknya satu planet di orbit sekelilingnya. Dari sini, sudah bisa ditakar berapa banyak Super Bumi yang mungkin ada. Xavier Bonfils, dari Observatoire des Ilmu de l’Univers de Grenoble, Perancis, mengatakan bahwa 40% dari semua bintang kerdil merah memiliki planet berbatu yang mengorbit di zona layak huni. Matahari lebih panas dua kali lebih besar sebagai katai merah. “Bintang kerdil merah memiliki super-Bumi yang mengorbit di zona layak huni di mana air cair di permukaannya,” kata Bonfils.

Bintang kerdil merah merupakan 80% dari bintang-bintang penduduk Bima Sakti, disebut juga bintang kelas M. Ini mengarah pada kesimpulan bahwa puluhan miliar planet berbatu ada di zona dihuni di Bima Sakti. Planet gas seperti Jupiter dan Saturnus lebih jarang mengorbit si katai merah. Banyak planet-planet itu berada di sekitar bintang tetangga yang relatif dekat. Sekitar 100 super-Bumi di zona layak huni mengorbit bintang yang berjarak 30 tahun cahaya atau kurang dari Bumi.

Langkah berikutnya untuk tim ESO adalah untuk mengidentifikasi lebih super-Bumi menggunakan kedua HARPS saat ini serta instrumen lainnya, untuk mempelajari atmosfer mereka, dan untuk mencari kehidupan. “Kita sudah memiliki ide untuk menemukan jejak kehidupan di planet-planet itu,” kata peneliti Stephane Udry dari Observatorium Jenewa rekan Bonfils.

Metodenya dengan mengamati cahaya bintang yang menyapu planet ketika transit. Dari cahaya bintang akan melewati atmosfer planet itu membawa informasi tentang komposisi kimia dari atmosfer planet tersebut. “Jika dapat melihat jejak elemen yang berhubungan dengan kehidupan seperti oksigen dalam cahaya itu, maka bisa mendapatkan beberapa petunjuk bahwa ada kehidupan di planet itu,” kata Udry.

Rohmat Haryadi

Boks 2:

Kelas Planet Luar Surya

David Sudarsky adalah astrofisikawan dari Universitas Arizona, Amerika. Dia terkenal karena astronom pertama yang membuat sistem klasifikasi planet ekstrasurya, berdasarkan serangkaian model teoritis atmosfir planet gas raksasa.

Kelas I: awan Amonia
Planet di kelas ini memiliki penampilan didominasi awan amonia, seperti Jupiter. Memiliki temperatur sekitar 150 Kelvin (-120 derajat Celsius / -190 derajat Fahrenheit ). Contohnya: Gliese 651 b.

Kelas II: awan Air
Planet kelas II terlalu hangat untuk membentuk awan amonia, sehingga awan mereka terdiri dari uap air . Jenis planet diharapkan untuk planet-planet dengan suhu di bawah sekitar 250 K. Meskipun awan di planet tersebut akan mirip dengan Bumi , atmosfer utama tetap terdiri dari hidrogen, dan kaya molekul hidrogen seperti metana. Contoh kelas II: planet HD 45364 b, dan HD 45364 c.

Kelas III: tanpa Awan
Planet dengan suhu rata-rata antara 350 K (170 ° F, 80 °C) hingga 800 K (980 ° F, 530 ° C) sehingga tidak membentuk awan global. Mereka tidak memiliki bahan kimia yang cocok di atmosfer untuk membentuk awan. Planet akan muncul sebagai bola biru seperti Uranus dan Neptunus. Planet kelas III berada sekitar bintang mirip Matahari dengan posisi seperti lokasi Merkurius. Contoh kelas III:  planet HD 37124 b dan HD 205739 b.

Kelas IV: logam alkali
Memiliki temperatur di atas 900 K (630 °C/1160 ° F). Karbon monoksida menjadi molekul pembawa karbon yang dominan di atmosfer planet (bukan metana ). Selain itu, banyaknya logam alkali , seperti natrium dan kalium.  Planet kelas IV dan V disebut sebagai Jupiters panas . Contohnya: 55 Cancri b.

Kelas V: awan Silikat
Planet gas raksasa yang terpanas dengan suhu di atas 1400 K (2100 ° F, 1100 ° C). Kadar silikat pada atmosfirnya tinggi, disertai kandungan karbon monoksida panas, dan logam alkali yang cukup tinggi pula. Contohnya: planet 51 Pegasi b.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: